
DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Pusat memiliki program revitalisasi sekolah mulai dari perbaikan ruang kelas yang rusak hingga melengkapi faislitas dasar sekolah. Di Denpasar sendiri program tersebut telah dirasakan oleh 11 SD yang sudah menerima perbaikan dan 7 SD masih menunggu bimbingan teknis (bimtek).
Kepala Bidang Pendidikan SD Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, I Nyoman Suriawan, Kamis (1/10) mengatakan, proses revitalisasi dilakukan secara bertahap. Sejumlah sekolah sudah menerima penyaluran dana dan mulai melaksanakan pembangunan.
Sementara sekolah lainnya masih berada dalam tahapan menunggu pemanggilan untuk mengikuti bimtek sebelum dana disalurkan. “Bantuan pemerintah pusat ini sudah ada yang cair dan sekarang berproses pembangunannya. Bertahap sudah ada progresnya,” ujar Suriawan.
Adapun 11 sekolah yang sudah menerima bantaun tersebut yakni SDN 6 Sumerta dengan anggaran Rp463.005.479 untuk rehabilitasi tiga ruang kelas dan penataan lingkungan. Kemudian SDN 2 Pemecutan mendapat Rp777.849.539 untuk rehabilitasi empat ruang kelas dan toilet. SDN 15 Dangin Puri menerima Rp478.746.168 untuk rehabilitasi tiga ruang kelas, toilet, dan penataan halaman.
Selanjutnya SDN 14 Dauh Puri mendapat Rp320.952.782 untuk rehabilitasi ruang perpustakaan, ruang administrasi, toilet, dan penataan halaman. SDN 15 Dauh Puri menerima Rp512.338.505 untuk rehabilitasi tiga ruang kelas dan toilet.
SDN 21 Dauh Puri mendapat Rp272.925.000 untuk rehabilitasi ruang perpustakaan. Sementara SDN 5 Sanur menerima Rp434.039.955 untuk rehabilitasi ruang UKS dan ruang kepala sekolah. SDN 12 Sanur mendapat Rp505.381.637 untuk rehabilitasi ruang guru, ruang kepala sekolah, dan ruang administrasi.
Kemudian SDN 11 Pedungan menerima Rp519.741.050 untuk rehabilitasi ruang kelas dan toilet. SDN 6 Padangsambian mendapat Rp434.970.129 untuk rehabilitasi ruang kelas dan toilet.
Sementara SD Tunas Harapan Jaya menerima Rp754.280.282 untuk rehabilitasi ruang kelas, ruang administrasi, ruang kepala sekolah, dan toilet. Dari jumlah itu, menurutnya sudah ada yang progresnya mencapai 70 persen seperti SDN 1 Pemecutan, SDN 1 Sumerta dan SDN 15 Dangin Puri.
Suriawan menjelaskan, sekolah yang sudah mengikuti bimtek belum otomatis menerima penyaluran dana. Sekolah tersebut masih berada dalam proses administrasi dan menunggu tahapan selanjutnya.
Terdapat tujuh sekolah yang tercatat sudah mengikuti bimtek tetapi dananya belum disalurkan. Ketujuh sekolah yakni SDN 5 Peguyangan, SDN 3 Peguyangan (aspirasi), SDN 17 Padangsambian, SDN 14 Padangsambian, SDN 7 Peguyangan, SDN 5 Ubung, dan SDN 11 Padangsambian.
Selain itu, masih ada enam sekolah yang masih menunggu dipanggil untuk bimtek. Sekolah ini yakni SDN 2 Sanur, SDN 23 Dangin Puri, SDN 10 Pedungan, SDN 8 Peguyangan, SDN 9 Padangsambian, dan SD Bali Bestari.
Suriawan mengatakan, proses pengusulan revitalisasi sangat bergantung pada data kondisi sekolah yang dimasukkan melalui sistem pendataan pemerintah. Ia mengingatkan seluruh sekolah melalui operator agar menginput kondisi riil sarana dan prasarana di masing-masing sekolah sesuai keadaan di lapangan. “Kami informasikan kepada seluruh sekolah agar operator menginput kondisi di masing-masing sekolah sesuai keadaan di lapangan,” katanya.
Menurutnya, data yang masuk dalam aplikasi Dapodik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjadi salah satu bagian penting dalam proses pengusulan. Tidak hanya data peserta didik, kondisi sarana dan prasarana sekolah juga perlu diperbarui. (Widiastuti/bisnisbali)










