
SINGASANA, BALIPOST.com – Pertanian padi organik di Subak Jaka, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, menghadapi tantangan serius. Luas lahan organik yang sebelumnya mencapai sekitar 10 hektare pada 2019 kini tersisa sekitar 3 hektare. Di tengah penyusutan tersebut, petani mulai mengandalkan teknologi drone untuk menekan biaya dan waktu pemeliharaan tanaman.
Pekaseh Subak Jaka, Ir. I Wayan Yusa mengatakan, mahalnya biaya produksi menjadi salah satu faktor utama yang membuat petani kesulitan mempertahankan pola pertanian organik. “Persoalan utamanya bukan pada hasil panen, tetapi bagaimana petani mampu bertahan dengan ongkos produksi yang cukup tinggi. Ini yang membuat lahan organik dari tahun ke tahun berkurang,” kata Yusa, Senin (14/9).
Subak Jaka memiliki luas sekitar 48 hektare. Namun, lahan yang masih menerapkan pola organik saat ini hanya sekitar 3 hektare. Padahal, luas lahan organik yang telah bersertifikat sempat mencapai sekitar 10 hektare pada 2019, kemudian menyusut menjadi sekitar 5 hektare pada 2023.
Salah satu beban produksi berasal dari kebutuhan pupuk. Petani harus membeli pupuk organik dengan harga sekitar Rp1.800 per kilogram. Kebutuhan pupuk juga mengikuti luas lahan serta tahapan pertumbuhan tanaman sehingga biaya yang ditanggung petani semakin besar jika harus dipenuhi secara mandiri.
Harga hasil pertanian organik sebenarnya lebih tinggi. Gabah organik di tingkat petani sekitar Rp8.500 per kilogram, sedangkan beras organik dapat mencapai Rp30.000 per kilogram. Namun, tingginya harga jual belum otomatis membuat petani terbebas dari persoalan biaya produksi.
Ditambah lagi bantuan pupuk dari pemerintah juga dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan. Petani memperoleh sekitar 10 kilogram pupuk organik padat per are melalui program Simantri dari Pemerintah Provinsi Bali, tetapi bantuan tersebut hanya diberikan sekali dalam setahun. Sementara dalam setahun petani dapat melakukan dua kali penanaman.
“Bantuan yang ada sangat membantu, tetapi belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan. Ketika masuk musim tanam berikutnya, petani harus kembali menghitung kebutuhan pupuk dan sebagian besar dipenuhi sendiri,” ujarnya.
Di tengah persoalan tersebut, petani Subak Jaka mulai mencoba pemanfaatan teknologi drone sprayer. Uji coba dilakukan sekitar 10 hari lalu di lahan organik Tempek Tirtanadi seluas 35 are. Teknologi tersebut dinilai mampu memangkas waktu pengerjaan secara signifikan. Penyemprotan 35 are secara manual membutuhkan sekitar tujuh tangki dengan waktu hingga dua jam. Dengan drone sprayer, pekerjaan serupa dapat diselesaikan sekitar 30 menit.
Menurut Yusa, efisiensi tersebut berpotensi mengurangi beban tenaga kerja sekaligus mempercepat proses pemupukan dan pemeliharaan tanaman. Pemanfaatan teknologi juga dinilai menjadi salah satu cara agar pertanian tetap menarik bagi generasi muda.
“Yang kami lihat dari uji coba ini adalah penghematan waktu dan tenaga. Kalau teknologi bisa dimanfaatkan dengan baik, pekerjaan di sawah tidak selalu identik dengan pekerjaan berat dan memakan waktu,” katanya.
Kendati demikian, harga drone sprayer masih menjadi kendala. Satu unit drone beserta perangkat pendukungnya diperkirakan mencapai Rp175 juta. Drone yang digunakan dalam uji coba di Subak Jaka merupakan milik pribadi rekan Yusa.
Karena itu, petani berharap pemerintah dapat membantu menyediakan sarana tersebut melalui kelompok tani. Selain bantuan perangkat, petani juga perlu mendapatkan pelatihan agar mampu mengoperasikan dan merawat drone secara mandiri. Yusa mengatakan, teknologi tidak dimaksudkan menggantikan pola pertanian organik, tetapi membantu petani mengurangi beban dalam proses pemeliharaan. Efisiensi menjadi penting agar biaya produksi tidak semakin membebani petani.
“Kalau ada dukungan sarana dan kemampuan operatornya, teknologi seperti ini bisa kami kembangkan bersama. Harapannya, petani tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap melihat pertanian organik sebagai usaha yang layak,” katanya.
Yusa berharap dukungan terhadap pertanian organik tidak hanya berhenti pada bantuan pupuk, tetapi juga mencakup teknologi, pembiayaan produksi dan pemasaran. Tanpa dukungan yang berkelanjutan, penyusutan lahan organik dikhawatirkan terus terjadi. “Kalau ingin pertanian organik berkembang, petani harus dibuat lebih ringan dalam biaya dan pekerjaannya. Dari sana baru ada peluang untuk mempertahankan lahan organik yang masih tersisa,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)










