
AMLAPURA, BALIPOST.com – Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (Distan PP) Karangasem di tahun 2026 ini tidak melakukan pengadaan bibit kapas kepada petani. Hal itu akibat keterbatasan anggaran serta anggaran diprioritaskan untuk program yang lebih bermanfaat langsung kepada masyarakat.
Kepala Distan PP Karangasem, I Made Sugiartha mengungkapkan, tahun ini pihaknya tidak melakukan pengadaan untuk bibit kapas kepada para petani. Hal tersebut dikarenakan stok bibit yang terbatas saat ini di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas).
“Selain itu juga karena adanya keterbatasan anggaran sehingga anggaran lebih diprioritaskan untuk program yang lebih bermanfaat langsung kepada masyarakat. Termasuk tahun depan, juga sama tidak ada pengadaan bantuan bibit kapas ini. Mudah-mudahan untuk tahun-tahun berikutnya, kembali ada pengadaan bibit kapas untuk para petani di Karangasem,” ujar Sugiartha belum lama ini.
Sugiartha mengatakan, dalam tiga tahun terakhir bantuan bibit kapas kepada petani mengalami penurunan sehingga jumlah produksinya juga menurun. Selain karena bibit yang terbatas juga karena hanya beberapa kelompok saja yang masih mau menanam kapas. Kata dia, pada tahun 2023 luas lahan yang ditanami bibit kapas sebanyak 82 hektare dengan hasil produksi sekitar 62 ribu kilogram. Kemudian di tahun 2024 menurun menjadi 45 hektare lahan yang ditanami bibit kapas dengan hasil produksi sekitar 49 ribu kilogram dan di tahun 2025 hanya 40 hektare lahan yang ditanami bibit kapas dengan hasil produksi 27 ribu kilogram.
“Hasil produksi terus menurun karena memang bantuan bibit yang kami berikan juga menurun. Bahkan tahun ini dan tahun depan tidak ada bantuan bibit untuk petani kapas di Karangasem. Dan meskipun bantuan bibit kapas tahun ini tidak ada, beberapa petani kapas ada yang tetap menanam bibit secara swadaya di beberapa tempat. Namun berapa hektare lahan yang ditanami dan berapa hasil produksinya belum diketahui, karena masih dalam pendataan,” katanya.
Dibagian lain, seorang petani kapas di Banjar Tegalanglangan, Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem, Gede Kari mengatakan, tahun ini dirinya hanya menanam bibit kapas sekitar 5 are saja. Itupun karena masih punya stok bibit bantuan dari pemerintah tahun sebelumnya. “Harga jual kapas anjlok, sekarang hanya Rp 7 ribu per kilogram, saat panen saya hanya dapat 20 kilogram bulan lalu,” kata Kari.
Kari menjelaskan, ketika pertama kali panen beberapa tahun lalu, harganya sempat Rp 25 ribu per kilogram, namun setelah itu harganya terus mengalami penurunan hingga sekarang hanya Rp 7 ribu per kilogram. Dengan harga murah dan kerap gagal panen akibat cuaca yang tak menentu beberapa petani kemudian memilih untuk menanam komoditas lain seperti jagung, kacang tanah dan yang lainnya. “Tahun ini saya nggak dapat bantuan bibit kapas, kurang tahu untuk petani lainnya. Faktor cuaca hasil panen tak sebanding dengan tenaga dan waktu jadi rugi,” imbuhnya. (Eka Parananda/balipost).










