I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya. (BP/Antara)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali menyebut sejumlah hotel di Badung dan Denpasar patungan untuk membeli alat pengolah sampah organik.

“Kita bekerja sama dengan beberapa pihak, sekarang masih menunggu pemesanan beberapa alat yang kita datangkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos, itu harganya cukup mahal namun iuran ya,” kata Wakil Ketua PHRI Bali I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya.

Rai di Kabupaten Badung, Selasa, menjelaskan dana patungan dari hotel-hotel ini dilakukan untuk menyelesaikan persoalan sampah dari hasil pariwisata di tengah pembatasan dan rencana penutupan TPA Suwung.

Baca juga:  "Social Distancing," Ini Pola Rapat Paripurna LKPJ Bupati Badung

Jika para pelaku usaha pariwisata ini hanya mengandalkan pemilahan atau pengolahan mandiri sambil menantikan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) siap, maka dipastikan sampah akan menumpuk.

Apalagi hotel, restoran, dan kafe (horeka) menyumbang 30-40 persen dari total sampah di Denpasar dan Badung, dengan dominasi 70 persen sampah organik.

“PSEL paling tidak 1,8 tahun selesai, harus kita pikirkan 2 tahun ke depan ini gimana karena kita tahu penghasil sampah yang terbesar kan Denpasar total 1.100 ton dan Badung 876 ton per hari, kalau kita mengharapkan teba moderen rasanya tidak cukup keburu penuh dan perlu waktu mereka menjadikan kompos sampai enam bulan,” ujarnya dikutip dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  PHRI Bali Usulkan Aplikasi "Do's and Don'ts" untuk Wisman

Untuk itu, satu-satunya cara yang dipilih anggota PHRI Bali adalah menggunakan teknologi mesin untuk mengolah sampah organik dalam waktu 4-6 jam.

Mesin pengolah sampah produksi dalam negeri ini harganya berkisar Rp200 juta hingga Rp1 miliar, sehingga sejumlah hotel sepakat mengumpulkan dana dan nantinya mesin akan dipasang di sekitar kawasan.

“Kita tempatkan nanti seperti yang sudah contohnya di daerah Berawa ya, satu alat itu bisa untuk beberapa hotel yang ikut iuran,” kata Rai.

Baca juga:  TPA Suwung Setop Terima Sampah Organik, Badung Siapkan Sejumlah Titik Pengolahan

Meski hotel-hotel mulai mencari teknologi untuk menyelesaikan sampah hasil aktivitas pariwisata, Rai menegaskan bahwa pelaku usaha tetap konsisten melakukan pemilahan.

Bahkan, sebelum TPA Suwung dilakukan pembatasan mereka sudah terbiasa melakukan pemilahan dan sebagian juga melakukan pengolahan mandiri.

Namun, tidak semua akomodasi dapat menyelesaikan sampahnya karena terkendala keterbatasan lahan, yang ditakutkan para wisatawan justru terganggu dengan pengolahan sampah di dalam hotel.

Akhirnya kebanyakan mereka memutuskan hanya melakukan pemilahan dan kemudian membayar jasa swakelola sampah untuk mengambil dan dikelola di TPS3R dan TPST. (kmb/balipost)

BAGIKAN