Warga Desa Sumerta Kelod saat melakukan pemilahan sampah yang kemudian dimasukan ke lubang biopori. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Selain teba modern, lubang biopori juga menjadi pilihan penanganan sampah khususnya sampah organik di sumber. Hal ini nampak dilakukan di Desa Sumerta Kelod, Denpasar yang membuat sekitar 300 lubang biopri di area pura hingga merajan gede. Selain  itu, komposter bag juga dibagikan kepada warga.

Perbekel Sumerta Kelod, I Gusti Ketut Anom Suardana, saat diwawancarai, Senin (25/5) mengatakan, lubang biopri yang dibuat ini untuk menangani sampah organik sisa upacara, sehingga tidak lagi dibuang ke luar desa. Selain untuk sampah sisa upacara, sampah hasil penyapuan khususnya jenis organik juga masuk dalam biopori ini.

Baca juga:  Lahirkan Narasi Energi Konstruktif dan Humanis, EPN Gelar Pena Petrofin Awards

“Melalui lubang biopori, seluruh sampah organik hasil penyapuan dan sisa upacara langsung kami masukkan ke sana. Saya mengistilahkannya sebagai teba atau ruang teba modern,” ujarnya.

Cara ini, kata dia, mengadopsi cara tradisional masyarakat Bali tempo dulu dalam mengelola sampah organik di halaman belakang, namun dikemas secara modern. Hal tersebut juga dikarenakan terbatasnya lahan sehingga dipilih lubang biopori. Untuk mempercepat proses dekomposisi di dalam lubang biopori, pihak desa memanfaatkan cairan ekoenzim.

“Sampah dari alam kita kembalikan ke alam agar menjadi kompos. Kami tambahkan cairan ekoenzim untuk mempercepat pembusukan dan menghidupkan biota pengurai seperti cacing dan mikroorganisme. Nanti kalau sudah jadi kompos, akan digali untuk pupuk tanaman di sekitar banjar,” terangnya.

Baca juga:  Gubernur Koster Dapat Dukungan Lembaga Internasional Percepat Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali

Anom Suardana mengatakan, pengadaan lubang biopori telah berjalan secara bertahap sejak tahun 2017, menyasar fasilitas umum hingga area sakral masyarakat. Hingga kini sudah ada 300 an lubang biopori yang tersebar di beberapa kawasan. Mulai dari Pura Induk, Pura Dalem, Pura Kahyangan, pura banjar, hingga sekarang merambah ke sanggah gede milik keluarga. “Ke depan targetnya tentu menyasar ke merajan alit,” ujarnya.

Selain biopori, Desa Sumerta Kelod juga masif membagikan komposter bag. Tercatat, kurang lebih 3.800 komposter bag telah diserahkan kepada kepala keluarga (KK) di wilayah Sumerta Kelod. Disusul dengan pembagian tong sampah yang diprioritaskan bagi para kader dan penjuru desa.

Baca juga:  TPA Peh Kaliakah Lakukan Perluasan Zona

Sementara itu, untuk sampah non-organik bernilai ekonomis seperti botol dan kantong kresek, warga mengarahkannya ke bank sampah banjar yang sudah memiliki jadwal rutin. Dengan itu, pihaknya, hanya menyisakan sedikit residu kecil yang dibuang ke TPA.

Pihak desa berharap fasilitas yang telah diberikan ini dapat diimbangi dengan konsistensi dari seluruh lapisan masyarakat serta para pengamong (pengelola) pura. Dengan itu penganan sampah dari sumber akan terwujud dengan maksimal. (Widiastuti/bisnisbali)

BAGIKAN