
DENPASAR, BALIPOST.com – Keberlanjutan program HIV di Denpasar kini memasuki fase krusial. Tidak lagi semata bertumpu pada intervensi medis, upaya penanggulangan HIV semakin bergeser pada dua pilar utama yakni penguatan kesadaran masyarakat dan kemandirian pembiayaan domestik.
Kondisi ini muncul seiring berkurangnya dukungan dari donor internasional, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama berbagai program HIV. Hingga April 2026, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Denpasar tercatat mencapai sekitar 17 ribuan kasus, dengan rincian 10 ribuan kasus HIV dan 7 ribuan kasus AIDS.
Setiap tahunnya, terdapat tambahan sekitar 800–900 kasus baru, sehingga secara tren, angka ini diperkirakan terus meningkat. “Sejak ditemukannya kasus ini hingga sekarang, sudah ada 17 ribuan kasus HIV/AIDS di Denpasar. Namun, bukan warga Denpasar saja. Akan tetapi ada juga dari luar Denpasar,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. A.A Ayu Agung Candrawati, usai membuka workshop Membangun Kesadaran dan Memobilisasi Sumber Daya Domestik untuk Program Keberlanjutan HIV di Kota Denpasar, Selasa (21/4).
Ia menjelaskan kelompok usia produktif, dengan rentang usia 20–39 tahun, menjadi yang paling terdampak, mencerminkan bahwa persoalan HIV tidak hanya menjadi isu kesehatan, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Kesadaran publik masih menjadi tantangan mendasar. Stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) membuat banyak individu enggan menjalani tes maupun mengakses layanan pengobatan. Padahal, deteksi dini dan pengobatan yang tepat merupakan kunci untuk menekan laju penularan.
Oleh karena itu, pendekatan edukasi perlu diperluas secara lebih kreatif dan inklusif. Juga peran tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam membangun pemahaman yang lebih empatik. Pendekatan berbasis komunitas juga terbukti efektif dalam menjangkau kelompok rentan. Berbagai organisasi masyarakat sipil di Denpasar telah berkontribusi besar dalam edukasi, pendampingan, hingga layanan langsung. Di sisi lain, inovasi pembiayaan juga menjadi kebutuhan mendesak.
Pada akhirnya, upaya penanggulangan HIV di Denpasar adalah tanggung jawab kolektif. Meningkatkan kesadaran berarti mengubah cara pandang masyarakat, sementara memperkuat pembiayaan domestik mencerminkan komitmen bersama untuk tidak meninggalkan siapa pun. (Pramana Wijaya/balipost)










