Sampah di TPA Peh Kaliakah. Penanganan sampah di Jembrana kini menerapkan pola tiga klaster. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah di tiap kabupaten, termasuk Jembrana. Pemkab Jembrana melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mendorong pola penanganan yang lebih terpadu dengan membagi pengelolaan ke dalam tiga klaster yakni dari hulu, tengah, dan hilir.

Pada tahap hulu, perhatian difokuskan pada perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya. Sejumlah program digencarkan, seperti teba modern, Jembrana Kedas, Gang Hijau, hingga optimalisasi bank sampah sebagai upaya mengurangi timbulan sampah sejak awal.

Baca juga:  Kurir Napi Bandar Narkoba Ternyata Sopir Taksi Online

Sedangkan klaster tengah, DLH Jembrana berupaya meningkatkan kinerja tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R). Langkah ini dilakukan agar proses pengumpulan dan pengolahan sampah menjadi lebih efektif sekaligus menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Sementara itu, pada klaster hilir, tantangan yang dihadapi dinilai paling berat. Kondisi TPA yang sudah melebihi kapasitas mendorong pemerintah menyiapkan solusi jangka panjang melalui penerapan teknologi pengolahan sampah.

Baca juga:  Mulai Mereda, Sampah Kiriman Laut di Pesisir Barat Kabupaten Badung

Kepala DLH Jembrana, Dewa Gede Ary Candra Wisnawa mengatakan, penguatan dilakukan secara berkelanjutan di setiap klaster. Menurutnya, pendekatan ini diharapkan mampu membuat penanganan sampah lebih terarah dan efektif.

“Di hulu kami tekankan perubahan perilaku masyarakat berbasis sumber. Pada klaster tengah, TP3 SR terus kami optimalkan. Sedangkan kondisi TPA yang sudah penuh mendorong kami menyiapkan solusi berbasis teknologi,” ujarnya, Rabu (15/4).

Baca juga:  Cegah Kebakaran di Denpasar, Polisi Awasi Warga Bakar Sampah Sembarangan

Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap penanganan sampah di Jembrana bisa berjalan lebih komprehensif, sekaligus mengurangi berbagai persoalan yang selama ini muncul di lapangan. (Surya Dharma/balipost)

 

BAGIKAN