Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOSt.com – TPST Kesiman Kertalangu, Denpasar telah beroperasi sejak awal tahun 2026. TPST yang dilengkapi mesin pencacah sampah organik ini mampu mengolah sampah maksimal 30 ton per hari. Hal tersebut diungkapkan oleh Camat Denpasar Timur Ni Ketut Sri Karyawati.

Ia mengatakan, operasional di TPST Kesiman Kertalangu terbagi menjadi 3 shift yakni, shift 1 mulai dari pukul 05.00 hingga 11.00 WITA, shift 2 mulai pukul 11.00 hingga pukul 17.00 WITA dan shift malam mulai pukul 17.00 hingga 23.00 WITA.

“Per hari TPST Kesiman Kertalangu hanya mampu mengolah 30 ton maksimal. Kalau kita paksakan berarti sampah yang kita terima tidak bisa diolah hari itu,” katanya.

Baca juga:  Cegah Penumpukan, Kebijakan Sampah Diperketat saat Galungan

Dikatakannya, sampah yang diterima di TPST Kesiman Kertalangu adalah sampah organik kering dari zona yang sudah ditetapkan yakni desa/kelurahan di Denpasar Timur serta ada 6 desa/kelurahan dari Denpasar Utara.

“Untuk desa/kelurahan di Denpasar Timur yang sudah memiliki TPS 3R kami sarankan agar sampah dicacah dulu di TPS 3R baru dibawa ke TPST. Sementara bagi yang tidak memiliki TPS 3R sampah organik dibawa langsung ke TPST Kesiman Kertalangu,” katanya.

Baca juga:  Debat Kedua, Ini Solusi 3 Paslon Pilkada Karangasem Atasi Sampah

Sri Karyawati menegaskan, jika sampah yang dibawa ke TPST Kesiman Kertalangu diharuskan melalui koordinasi desa/kelurahan. Tidak diperbolehkan warga secara pribadi membuang sampah ke sana. Demikian pula sampah upakara yang diperbolehkan adalah sampah yang sudah terpilah.

Sebelumnya, Mandor DLHK Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Giri Putra mengatakan, operasional TPST Kesiman Kertalangu telah dimulai sejak 21 Oktober 2025. Diawali dengan pengoperasian mesin pencacah ranting.

Setelah dinilai berjalan dengan baik, operasional diperluas dengan mengaktifkan mesin pencacah organik. “Untuk pencacah organik itu mulai beroperasi tanggal 8 November,” jelasnya.

Baca juga:  Proyek PSEL akan Diluncurkan di 34 Kabupaten/kota

Dari sisi kapasitas, Giri Putra menyebut volume sampah yang diolah juga dipengaruhi kondisi cuaca. Seperti saat musim hujan membuat sampah basah yang sulit untuk diolah.

Diakuinya, sampah basah yang masuk ke mesin pencacah lebih sulit untuk diolah karena berlumpur. Baik itu dalam pemilahan atau pun pencacahan. Meski demikian, operasional TPST Kesiman Kertalangu diharapkan dapat terus dioptimalkan.

Disinggung soal hasil olahan sampah ini, untuk organik yang menjadi kompos akan dimanfaatkan untuk pemupukan tanaman di sekolah-sekolah hingga perkantoran. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN