Ilustrasi. (BP/Tomik)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi Bali kini tengah gencar menyosialisasikan pengolahan sampah berbasis sumber. Hal ini dilakukan di tengah Bali dalam kondisi darurat sampah. Sehingga, sampah harus dipilah dari sumbernya.

Ketua Satgas Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Universitas Warmadewa (Unwar) , Dr. Desak Ketut Tristiana Sukmadewi, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa kunci utama pengelolaan sampah ada pada pemilahan dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Menurutnya, warga harus mulai memilah sampah sejak awal agar jelas ke mana arah pengolahannya. “Kalau sudah dipilah, bisa ditentukan lanjutannya. Sampah organik bisa dijadikan kompos, sementara yang masih punya nilai ekonomi bisa digunakan kembali, dijual, atau diolah menjadi produk lain,” ujarnya saat diwawancara usai menjadi narasumber Talkshow “Pengolahan Sampah Berbasis Sumber”, di Kantor LLDikti Wilayah VIII, Jumat (13/2).

Di lingkungan Universitas Warmadewa, Kepala Pusat Studi Climate Change ini mendorong pengomposan mandiri sebagai langkah paling sederhana dan mudah diterapkan masyarakat. Terlebih, teknik pengomposan sangat beragam dan bisa disesuaikan dengan jenis limbah yang dominan di rumah tangga.

Baca juga:  DLH Tabanan Siapkan Aturan Baru, Sampah ke TPA Wajib Terpilah

Jika limbah dapur lebih banyak, warga dapat mengolahnya menjadi pupuk cair atau eco-enzyme. Sementara untuk sampah daun dan sejenisnya, bisa dilakukan pengomposan sederhana.

Meski proses alami membutuhkan waktu cukup lama, penggunaan bioaktivator dapat mempercepat penguraian, bahkan dari dua bulan menjadi sekitar satu bulan. “Dengan bioaktivator, volumenya juga berkurang lebih cepat. Jadi tidak menumpuk terlalu lama di rumah,” jelasnya.

Apabila masih mengalami kendala, masyarakat dapat membawa sisa sampah ke TPS 3R. Dengan catatan, volumenya sudah berkurang karena sebagian telah diolah di rumah. Residu yang berbahaya tetap harus dibawa ke TPA atau dikelola pihak ketiga, mengingat pengolahan mandiri berisiko bagi kesehatan dan keselamatan warga.

Baca juga:  Anggota Dewan Imbau Masyarakat Gianyar Pilah Sampah dan Terapkan Teba Modern

Ia mengakui, berbagai teknologi seperti insinerator hingga pirolisis sempat menjadi opsi. Namun, kapasitas dan skala teknologi tersebut umumnya besar dan tidak cocok untuk rumah tangga. Saat ini, pihak kampus masih mengkaji efektivitas dan urgensi penggunaan teknologi tersebut, sembari tetap menyerahkan pengelolaan residu kepada pihak ketiga.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengurangi produksi sampah sejak awal. “Yang paling susah memang kesadaran. Masyarakat harus paham apa yang mereka konsumsi dan bagaimana dampaknya setelah menjadi sampah,” katanya.

Ia juga mendorong pemahaman bahwa sampah memiliki nilai ekonomi. Plastik dan material tertentu bisa dijual ke pengepul. Sementara sisa makanan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk rumah tangga. Dengan memilah, nilai ekonomi sampah bisa meningkat dan menjadi motivasi tambahan bagi masyarakat.

“Intinya bertanggung jawab terhadap apa yang kita produksi. Minimalisir penggunaan barang yang berpotensi jadi sampah banyak. Milah dari sumber, olah yang bisa diolah, residu baru dibawa keluar,” tegasnya.

Baca juga:  Minim, Guide Pahami Sejarah Cagar Budaya

Sementara itu, Rektor Unwar Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, MP., menegaskan pentingnya komitmen perguruan tinggi dalam mengelola sampah berbasis sumber. Menurutnya, pengelolaan sampah berbasis sumber ini sangat penting bagi seluruh kalangan pendidikan tinggi tanpa terkecuali. Hal ini sejalan dengan instruksi Presiden, Kementerian Lingkungan Hidup, serta Pemerintah Provinsi Bali.

Ia menekankan bahwa pengelolaan sampah berbasis sumber harus menjadi komitmen bersama seluruh kampus, dengan mengedepankan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi strategi utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di lingkungan pendidikan.

“Dengan slogan 3R, kita dorong agar seluruh institusi pendidikan benar-benar melaksanakan pengelolaan sampah dari sumbernya. Ini bukan sekadar program seremonial, tetapi komitmen bersama untuk keberlanjutan,” tegasnya, Jumat (13/2). (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN