Kepala BI KPw Bali Trisno Nugroho. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kondisi pandemi telah membuat dunia usaha serba sulit. Namun usaha pertanian khususnya binaan Bank Indonesia diminta tetap berproduksi. Karena kegiatan bertani tidak akan menyebabkan penularan, selama menjaga jarak dan menerapkan gaya hidup bersih.

Kepala KPw BI Bali Trisno Nugroho, Selasa (13/5) mengatakan, BI mendorong klaster pertanian untuk tetap berproduksi seperti klaster bawang putih, udang paname dan beras.

Pilar enam kabupaten di Bali selain Denpasar, Badung, Gianyar adalah sektor pertanian dalam arti luas sehingga pengembangan pertanian harus difokuskan dan diintensifkan, salah satunya dengan menggunakan teknologi. Misalnya dalam pengolahan padi menjadi beras diperlukan rice milling unit (RMU) yang canggih untuk menghasilkan beras dengan kualitas premium, dilengkapi pengering gabah dan bleaching.

Ia melihat di Bali belum ada yang menggunakan RMU canggih. Sementara untuk menuju kemandirian pangan, modal penggilingan padi yang baik harus dimiliki. Demikian juga dengan komoditas pertanian lain seperti perlakuan pada manggis pasca panen memerluoan teknologi.

Baca juga:  Produksi Melimpah, Harga Kelapa Anjlok

Pengelolaan menuju kemandirian pangan juga perlu dikelola lembaga yang khusus di bidang tersebut seperti BUMD Pangan. Secara tidak langsung lembaga ini juga turut menjaga inflasi. “Karena BUMD bergerak tidak cari untung banyak. Tugasnya untuk hilirisasi produk pertanian, bawang merah, cabai, minyak, arak,” jelasnya.

Menurutnya hal itu bukan hal yang sulit karena Bali mampu melakukannya. Untuk mengelola BUMD pangan pun dibutuhkan SDM yang profesional di bidang tersebut. “Cari orang yang pengalaman di ritel, jangan birokrasi,” tandasnya.

BI pun dikatakan siap unuk mendampingi dan memberikan eksistensi. Tinggal, memperkuat niat. SDM menjadi kunci, bukan uang. Sehingga ke depan bisa mencukupi kebutuhan masyarakat Bali dan wisman 50 -60 persennya.

Menurutnya, selama pertanian dalam arti luas tidak memberikan value edit yang lebih tinggi dari pariwisata. Sehingga masyarakat bisa mempertahankan pertaniannya dan tidak beralih ke pariwisata.(Citta Maya/Balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.