Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe (kanan) menghadiri rapat terkait pemberlakuan darurat nasional pada Senin (6/4). (BP/AFP)

TOKYO, BALIPOST.com – Ahli medis di Jepang memperingatkan perlunya upaya untuk mencegah penyebaran COVID-19 sehingga sistem kesehatan di negara itu tidak kewalahan. Pasalnya, kasus terinfeksi COVID-19 di Jepang sudah melampaui 10.000 kasus, meski negara itu sudah mengumumkan darurat nasional.

Para ahli, dikutip dari AFP, telah mengingatkan peningkatan kasus yang terjadi, dengan jumlah ratusan per harinya.

Penambahan kasus di Jepang masih lebih rendah dibandingkan wabah yang terjadi Eropa. Namun, di Asia, kumulatif kasus COVID-19 Jepang merupakan salah satu yang tertinggi, setelah China dan India. Setidaknya sejajar dengan Korea Selatan.

Telah terjadi 171 kematian sejauh ini dan jumlah kasusnya mencapai 10.751 pasien. Saat ini Jepang sudah memberlakukan darurat nasional selama sebulan. Semula hanya 7 kawasan, namun kini pemberlakuan kebijakan itu sudah secara nasional.

Perdana Menteri Shinzo Abe telah meminta para warga untuk mengurangi kontak dengan warga lainnya sekitar 70 hingga 80 persen. Jumlah orang yang berada di transportasi publik saat ini pun sudah berkurang signifikan.

Namun kebijakan itu tidak menghalangi warga untuk bepergian dan masih banyak toko serta restoran yang buka.

Baca juga:  Pasien Sembuh Tambah Belasan Orang, Kasus Baru Positif COVID-19 Masih Terus Ada

“Sistem kesehatan di sejumlah tempat di Jepang sudah hampir kolaps,” kata Pakar Penyakit Infeksi dari Universitas Kobe, Kentaro Iwata, yang berulangkali mengkritik respons pemerintah dalam menangani krisis ini.

Kritikan Iwata ini dijawab pemerintah Jepang dengan menyatakan pihaknya sudah berupaya meningkatkan strategi, melalui penambahan kapasitas tes, mengubah kebijakan agar seluruh kasus positif berada dalam perawatan sehingga RS menjadi penuh, dan memberlakukan darurat nasional untuk mencegah penyebaran.

Ahli medis menyuarakan perlunya upaya-upaya lain. “Tempat tidur di RS untuk pasien COVID-19 hampir penuh,” kata Presiden Asosiasi Medis Tokyo, Haruo Ozaki.

Asosiasi itu sudah menambahkan jumlah tempat tidur namun kasus baru selalu muncul tiap hari sehingga tempat tidur tambahan selalu terisi. “Kami melakukan yang terbaik, tapi infeksi menyebar lebih cepat dibandingkan perkiraan,” ujarnya.

Rumah sakit juga kekurangan alat pelindung diri, sehingga Wali Kota Osaka meminta donasi jas hujan bekas untuk para pekerja medis yang kini terpaksa menggunakan kantong sampah untuk melindungi diri. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.