MANGUPURA, BALIPOST.com – Pada Selasa (31/12), Kliwon, Sasih Kapitu, Wuku Kulantir, Isaka Warsa 1941, Istana Mancawarna Tampaksiring menggelar upacara Raja Yadnya. Kegiatan ini dalam rangka memperingati tahun kesembilan melinggihnya Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III sebagai Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX.

Persiapan pun telah dilaksanakan, termasuk rencana menedunkan “Tari Bedoyo Segoro Kidul” yang akan ditarikan dihadapan penglingsir dan tamu kehormatan di Istana Mancawarna Tampaksiring. Tari Bedoyo Segoro Kidul adalah tari sakral untuk menghormati Ibu Kanjeng Ratu Dewi Pantai Selatan dan tari ini digagas oleh Shri Arya Wedakarna sejak 2016 dan hanya dipentaskan 3 kali dalam setahun yakni pada 23 Agustus (Sugeng Wiyosa), 11 November (Hari Kelahiran Majapahit), dan 31 Desember (Ngadeg Ratu).

Demikian diungkap oleh Gusti Wastu Manggala (Karumga Istana Mancawarna) disela-sela persiapan upacara. “Sesuai dengan pesan Shri Gusti bahwa upacara peringatan Ngadeg Ratu diadakan secara sederhana, mengingat kondisi bangsa yang masih dilanda bencana. Walau begitu, tentu tidak akan mengurangi makna kesakralan, karena intinya upacara ini ditujukan kepada leluhur Majapahit, ” ungkapnya.

Baca juga:  Dharma Wacana, AWK Minta Orang Bali Lebih Positif dan Sportif

Shri Arya Wedakarna menyampaikan bahwa kegiatan Raja Yadnya ini murni ia persembahkan kepada leluhur untuk kemuliaan nilai-nilai Majapahit. “Setiap 31 Desember tiang selalu ingat akan jasa Sri Brahmaraja Wilatikta dari Puri Surya Majapahit Trowulan Jawa Timur yang telah memberikan amanat mengemban amanat leluhur Sabdo Palon. Di samping itu, tiang ingin memberikan upacara Yadnya kepada leluhur kami Raja Badung Pertama yakni I Gusti Tegeh Kori. Mohon doa restu, mangde karya berjalan lancar,” ujarnya. (Adv/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.