I Wayan Mardiana (kiri) dan I Putu Astawa. (BP/rind)

DENPASAR,BALIPOST.com – Bali sampai saat ini masih negatif dari wabah African Swine Fever (ASF) atau virus demam babi Afrika. Ini lantaran dinas terkait langsung mengambil langkah-langkah antisipasi, mengingat virus ASF sangat berbahaya bagi ternak babi sekalipun tidak menular pada manusia.

Perjalanan virus ini dimulai September 2018 di Cina, kemudian merembet ke beberapa negara seperti Hongkong, Laos, Korea, Vietnam, Mongolia, Filipina, Timor Leste, bahkan Indonesia di Sumatera Utara.

“Virus ini hanya menular pada ternak babi dan tidak bisa ditularkan dari babi kepada manusia,” ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali I Wayan Mardiana saat memberikan keterangan pers bersama Plt. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa di kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Jumat (27/12).

Meski demikian, lanjut Mardiana, ada 25 titik di Bali yang berisiko sangat tinggi terhadap penularan virus. Salah satunya karena masih banyak peternak yang memanfaatkan sisa-sisa makanan dari hotel, restoran dan katering (horeka) untuk pakan babi. Sisa-sisa makanan itu bisa saja dimanfaatkan asal dimasak dengan suhu di atas 70 derajat celcius, dengan harapan virus mati.

Petugas sudah diturunkan untuk melakukan pengawasan dan pemantauan. Sebab, hingga kini belum ditemukan obat atau vaksin untuk virus ASF. Secara keseluruhan, jumlah peternak di Bali yang berisiko tinggi penularan mencapai 309 dengan jumlah babi 10.002 ekor. Terbanyak di Denpasar dengan 140 peternak dan 5.083 ternak babi.

Baca juga:  Pasca Festival, DTW Jatiluwih Tak Hanya Fokus Pada Kunjungan

Menurut Mardiana, penularan utamanya memang melalui sisa-sisa makanan yang berbahan daging babi, seperti sosis, burger dan sei. Oleh karena itu, pihaknya sudah melakukan pelarangan masuknya daging atau produk berbahan babi ke Bali. Sisa-sisa makanan pada pesawat dari negara-negara yang terinfeksi juga langsung dimusnahkan dan tidak lagi dibawa ke TPA.

Plt. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa mengungkapkan, wabah virus ASF tidak berpengaruh pada jumlah kunjungan wisatawan ke Bali. Per November, kunjungan wisatawan terus meningkat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. “Angka kunjungan sementara sudah 5,7 juta sampai November. Pada Desember mudah-mudahan dapat sekitar 550 ribu,” sebutnya.

Dikatakannya, pengawasan kini lebih diperketat, terutama wisatawan yang membawa makanan dari negara-negara yang dicurigai agar jangan sampai mengandung virus. Wisatawan Cina umumnya gemar membawa makanan dari negaranya. Sementara babi yang mati di negara itu karena virus ASF sudah mencapai 25 juta ekor. (Rindra Devita/balipostkmb32)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.