
BANGLI, BALIPOST.com – Pohon tumbang menjadi ancaman yang kerap terjadi di Kabupaten Bangli, terutama saat memasuki musim hujan. Dampak dari pohon tumbang ini sering kali melumpuhkan arus lalu lintas dan bahkan berpotensi merusak fasilitas milik warga. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangli telah mengambil langkah antisipasi dengan melakukan pemangkasan pohon. Namun, upaya pemangkasan dilakukan dengan skala prioritas karena keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki dinas.
Kepala DLH Bangli, I Putu Ganda Wijaya, Selasa (11/11), mengaku pihaknya menerima banyak permohonan pemangkasan pohon dari masyarakat. Permohonan dari masyarakat itu belum sebanding dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki dinas.
Dijelaskan bahwa saat ini, DLH hanya memiliki satu unit mobil khusus untuk melakukan pemangkasan pohon. Itu pun hanya mampu menjangkau pohon dengan ketinggian maksimal tujuh meter. Terbatasnya fasilitas tersebut membuat pihaknya harus menerapkan skala prioritas.
DLH saat ini memfokuskan kegiatan pemangkasan di jalur-jalur yang memiliki risiko dampak terparah jika terjadi pohon tumbang. Jalur yang masuk prioritas pemangkasan meliputi Jalur utama dari perbatasan Bangli–Gianyar, wilayah Desa Bunutin hingga kawasan Kota Bangli, jalur utama di Kecamatan Tembuku, khususnya Desa Jehem, jalur di Kecamatan Kintamani, yaitu Penelokan dan jalur dari Kecamatan Susut menuju Sekardadi. “Dan beberapa desa yang pohonnya rindang berisiko tumbang,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi pohon tumbang Ganda mengatakan pihaknya juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta pihak PLN terkait keberadaan kabel listrik yang melintang di antara pepohonan.
Seperti yang diketahui sejak beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Kabupaten Bangli diguyur hujan. Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD-Damkar Bangli, I Wayan Wardana belum lama ini mengungkapkan berdasarkan rilis resmi dari BMKG, saat ini telah memasuk periode rawan bencana hidrometeorologi yang puncaknya diprediksi terjadi pada Januari sampai Februari. “Berkaitan itu kami sudah menyiapkan diri, baik dari segi peralatan maupun personel,” ungkap Wardana, Jumat (7/11) lalu.
Untuk menjamin respons cepat di lapangan, BPBD Damkar Bangli telah menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC). TRC dibagi dalam empat shift. “Kami juga akan melakukan penebalan (penambahan personel) jika sewaktu-waktu dibutuhkan saat terjadi bencana,” tambah Wardana.
Wardana juga mengatakan bahwa pihaknya turut mengambil bagian dalam Apel Kesiapan yang digelar pihak kepolisian belum lama ini. Hal ini merupakan upaya bersama untuk memastikan semua alat pendukung penanganan bencana hidrometeorologi siap digunakan.
Meskipun pihaknya sudah melakukan persiapan optimal, Wardana mengakui masih ada peralatan yang sangat dibutuhkan terutama untuk penanganan saat malam hari. Yang paling dibutuhkan adalah penerangan untuk malam hari.
Timnya selama ini harus memanfaatkan lampu mobil seadanya ketika melakukan penanganan bencana seperti pohon tumbang pada malam hari. Terkait peralatan pemotong seperti gergaji mesin, Wardana memastikan ketersediaan cukup. Pengadaan gergaji mesin ini sebagian berasal dari bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank hingga PLN. (Dayu Swasrina/balipost)










