Suasana rapat pleno penetapan rekapitulasi suara Pemilu 2019 di Jembrana. (BP/kmb)

Masih menunggu kurang dari dua minggu bagi kita untuk mengetahui hasil pemilu yang sesungguhnya di republik ini. Tanggal 22 Mei 2019 merupakan batas terakhir dari rekap penghitungan suara secara nasional.

Bagi kita, penghitungan yang lebih maju dari tanggal tersebut tentu lebih bagus karena secara psikologis mampu menuntaskan rasa penasaran kita. Mungkin juga seluruh rakyat Indonesia. Sampai saat ini, pasangan presiden nomor urut satu masih mengungguli pasangan nomor urut 02 dalam real count yang dilakukan KPU. Namun, paling bagus adalah dengan menunggu hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum.

Kita tahu, bahwa yang paling ramai dalam jagat Pemilu 2019 adalah soal hasil Pemilihan Presiden. Inilah yang menjadi diskusi berlama-lama di media massa, juga media sosial tentang siapa sesungguhnya yang menjadi pemenang. Mereka yang percaya dengan hasil perhitungan lembaga quick count akan memandang pasangan 01-lah yang menang.

Tetapi sebaliknya, bagi mereka yang meragukan hal itu akan memandang dengan cara lain. Yang terakhir ini telah diungkapkan oleh pendukung pasangan nomor urut 02. Perbedaan itulah yang menimbulkan berbagai wacana sehingga muncul pernyataan untuk menunggu hasil yang sah dari KPU.

Tentu ini merupakan sebuah wacana konstruktif yang sifatnya positif. Artinya, kita semua berupaya menekan terjadinya konflik yang lebih keras terhadap perbedaan pendapat tersebut. Konflik itu bermula dari perbedaan pendapat, yang apabila berkembang akan dapat tereskalasi menjadi lebih terbuka dan akhirnya muncul kekerasan.

Hingga saat ini, media sosial kita masih ramai dengan berbagai ujaran yang saling bertolak belakang itu. Hingga saat ini, juga masih belum ada tanda-tanda apakah berbagai ujaran yang saling bertolak belakang itu akan segera selesai atau tidak. Atau kita akan melihat wacana yang lebih ramai setelah tanggal 22 Mei 2019 mendatang.

Baca juga:  KPU Jembrana Kekurangan 137 Kotak Suara

Untuk itulah, kita harus jaga-jaga tentang berbagai kemungkinan tersebut. Dilihat dari sisi teoretik, sesungguhnya upaya untuk menekan berbagai konflik itu relatif mudah. Cukup jelas bahwa konflik yang terjadi sekarang adalah antara dua kelompok, yang masing-masing mempunyai tokoh.

Yang dimaksudkan tokoh ini bukan saja calon presiden dan calon wakil presiden tetapi juga figur yang berada di belakang mereka. Ini juga tokoh. Dalam konflik kelompok yang sifatnya horizontal tersebut, tokoh memegang peran kunci. Jika salah satu tokoh dari masing-masing kelompok mau memosisikan diri dalam kaitan kepentingan negara maka keterbukaan tentang perbedaan pendapat akan semakin dekat. Ini merupakan pintu awal bagi kita untuk membuka dialog.

Bahkan, simbol-simbol tindakan sekalipun akan dapat mengurangi intensitas konflik. Misalnya adalah adanya makan bersama antarmasing-masing tokoh dari dua belah pihak. Sorotan media terhadap pertemuan ini pastilah mengandung makna yang cukup besar untuk memengaruhi sikap para pengikut. Artinya, para pengikut akan mau menurunkan tensi konfliknya setelah melihat adanya kedekatan antartokoh pada kelompok tersebut.

Tetapi nampaknya hal ini masih belum dilakukan. Kita pandang semakin cepat langkah pertemuan antartokoh ini akan semakin baik bagi upaya untuk menekan dan meluasnya konflik setelah pemilu ini. Dilihat dari ragam dan struktur masyarakat Indonesia, solusi seperti ini akan lebih memberikan hasil.

Sudah tentu pula, para elite politik Indonesia harus siap-siap dengan berbagai gugatan yang akan dilakukan para peserta pemilu ke Mahkamah Konstitusi. Cara ini bagus juga dan mampu menghilangkan konflik  dengan baik. Kita harus sadar dengan hukum, dan kesadaran itulah yang akan membuat ketertiban di negara ini dapat dijamin. Kita mengharap penghitungan suara lebih cepat dari target waktu yang ditetapkan.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.