SINGARAJA, BALIPOST.com – Volume sampah setelah perayaan puncak perayaan Nyepi saka 1941 Kamis (7/3), naik sebesar 20 persen. Peningkatan ini karena saat pelaksanaan Nyepi, operasional pengangkutan dan pembersihan dihentikan secara penuh, sehingga sampah tertahan di tempat pembuangan sementara (TPS) atau transfer depo yang ada.

Selain itu, sisa bekas upacara Pecaruan Tawur Agung dan malam pangerupukan, Rabu (5/3) juga banyak menghasilkan timbunan sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng Putu Ariadi Pribadi, Jumat (8/3) mengatakan, berdasarkan data yang ada saat hari normal setiap hari sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan sebanyak 450 meter kubik. Kemudian setelah Nyepi tahun ini, volume-nya naik sebesar 20 persen.

Menyusul peningkatan volume smapah itu, DLH sudah melakukan penanganan dengan optimal. Caranya, setelah warga melaksanakan ritual Pecaruan Tawur Agung Sasih Kesanga dan diikuti malam pangerupukan, pihkanya sudah menerjunkan 150 petugas kebersihan.

Jumlah ini belum termasuk tukang sapu yang dimiliki DLH. Untuk mengurangi volume timbunan di TPS atau transfer depo, juga dikerahkan 13 armada truk pengangkutan sampah.

Selain itu, delapan regu Unit Sapu Bersih (USB-red) dan tiga armada pengangkutan sampah dengan kendaraan roda tiga juga dikerahkan. “Pengalaman Nyepi tahun lalu, volume sampah naik sekitar 20 persen. Kondisi ini sudah kami tangani mulai Rabu (6/3) sekitar pukul 14.00 Wita sampai malam pangerupukan, sehingga ini bisa mengurangi penumpukan sampah, apalagi saat Sipeng (Nyepi, red) operasional kita tutup,” katanya.

Baca juga:  Sampah Meningkat Hingga 30 Persen Setelah Galungan, Ini Upaya DLH Tabanan

Di tengah tingginya volume sampah yang dihasilkan setiap rumah tangga di Bali Utara, DLH memasang target timbunan sampah sebesar 30 persen. Sedangkan, 70 persen volume sampah di Bali Utara dapat ditangani, baik dari pengumpulan, pemilahan, pengangkutan, pemrosesan akhir dan pengolahan. Penanganan dengan cara ini sejalan dengan konsep “3R” (Reuse, Reduce, dan Recycle).

Untuk menjalankan target itu, Ariadi telah menyusun program dengan menggerakan fungsi TPS-Terpadu dan TPS 3R yang sekarang sudah dibentuk di 26 lokasi. Selain itu, program Bank Sampah yang sudah terbentuk di 38 desa juga turut digerakkan.

Diakuinya, TPS-Terpadu dan TPS-3R memberi hasil positif, di mana sampah organik dapat dijadikan kompos.  Sedangkan, plastik yang memiliki nilai ekonomi, dijual kepada pengepul barang rongsokan, sehingga mendapatkan tambahan penghasilan. (Mudiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.