Proyek penataan obyek wisata Penelokan Kintamani yang menelan anggaran Rp 12 miliar kini masih dalam proses pengerjaan. (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Proyek penataan obyek wisata Penelokan, Kintamani sudah berjalan sejak beberapa bulan terakhir. Hingga pertengahan November ini, realisasi proyek tersebut sudah mencapai 62 persen. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bangli optimis proyek penataan objek wisata yang menelan anggaran Rp 12 miliar itu bisa tuntas tepat waktu.

Kepala Disparbud Kabupaten Bangli I Wayan Adnyana, Minggu (18/11) mengatakan, sesuai kontrak kerja proyek penataan objek wisata Penelokan Batur, dikerjakan selama 3 bulan kalender. Yakni dimulai sekitar bulan Oktober dan tuntas bulan Desember ini. Dengan capaian 62 persen di bulan November, progress proyek penataan penelokan dikatakan sudah melampaui target yang dibebankan. Pihaknya pun memberikan apresiasi terhadap pemborong yang mengerjakan proyek itu dengan cepat.

Adnyana mengatakan saat ini masih ada beberapa item pekerjaan yang belum terselesaikan. Salah satunya pengerjaan bale panjang. Agar seluruh pekerjaan bisa tuntas tepat waktu, pihaknya pun telah meminta rekanan untuk menggenjot pengerjaan. “Kita minta rekanan untuk melemburkan pekerja, mengingat limit waktunya sudah makin dekat,” terangnya.

Baca juga:  Menhub Tawarkan 12 Proyek Strategis Dalam ASEM TMM di Bali  

Sementara itu, belum lama ini Komisi III DPRD Bangli sempat turun untuk meninjau langsung progress pengerjaan proyek penataan Penelokan. Dipimpin Ketua Komisi Ketut Suastika, Komisi III mengapresiasi progress pengerjaan proyek tersebut lantaran realisasinya mampu melampaui target yang dibuat dalam time schedule.

Meski demikian, Suastika tetap meminta pihak rekanan untuk bekerja dengan baik dan konsisten mengacu dengan time schedule yang telah dibuat. Sehingga proyek tersebut dapat selesai tepat waktu. “Kami juga minta agar kualitas tetap diperhatikan dan disesuaikan dengan spek. Pengawas kami harapkan agar rutin hadir di sana mengawasi jalannya proyek. Jangan sampai setelah proyek selesai baru ditemukan persoalan pada kualitasnya,” kata Suastika belum lama ini.  (dayu rina/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.