Sampah menumpuk di depan Pasar Kidul Bangli yang mulai mengeluarkan bau tak sedap. (BP/nan)

BANGLI, BALIPOST.com – Tidak beroperasinya belasan truk pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangli akibat kelangkaan BBM jenis solar memicu terjadinya penumpukan sampah di beberapa titik di Bangli. Bahkan, sampah yang menumpuk di pinggir-pinggir jalan mulai mengeluarkan bau tak sedap dan juga merusak estetika khsusunya di Kawasan Kota Bangli.

Berdasarkan pantauan di lapangan, pasca tidak diangkutnya sampah akibat kelangkaan solar membuat sampah-sampah rumah tangga yang dibuang masyakarat menumpuk di sejumlah titik di pinggir-pinggir jalan. Kondisi terparah sampah yang berada di depan Pasar Kidul menggunung dan berserakan. Bahkan, sampah mulai mengeluarkan bau tak sedap yang sangat mengganggu petugas parkir, pedangan dan para pengunjung pasar yang hendak berbelanja.

Salah seorang petugas parkir di Pasar Kidul Bangli, I Wayan Payu mengungkapkan, jika sampah yang ada di dua titik di depan Pasar Kidul sudah mulai menumpuk. Kata dia, pihaknya sangat menyayangkan keberadaan sampah ini menumpuk di depan pasar. Sebab, sampah sangat mengganggu pemandangan mengingat sampah sampai meluber jalan raya. Tak hanya itu saja, keberadaan sampah juga sangat mengganggu pengunjung pasar karena lahan parkir untuk memarkir sepeda motor pengunjung dijejali tumpukan sampah.

“Sampah ini sudah tiga hari tidak diangkut. Sehingga sampah mulai berjubel. Sampah-sampah yang menumpuk bukan hanya sampah pasar saja, namun juga merupakan sampah rumah tangga. Arena banyak warga yang membuang sampah disini. Bahkan sekarang ini sampah mulai menebar bau tak sedap yang sangat mengganggu kenyamanan pengunjung pasar, ”ujarnya.

Baca juga:  Ditutup, Tumpukan Sampah di Lahan Warga Ungasan Masih Dibiarkan

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangli Ida Ayu Gde Yudi Sutha mengatakan, agar bisa kembali melakukan pelayanan pengangkutan sampah, kini pihaknya bersama seluruh armada pengangkut sampah tengah melaksanakan uji praktik pembelian solar di SPBU Kayuambua yang memiliki struk karena SPBU Bangli tidak melayani solar biasa dan akan menuju ke solardex yang harganya dua kali lipat dengan harga solar biasa. Begitu juga dengan SPBU Bunutin Bangli juga tidak melayani solar. Sementara untuk SPBU Pengotan melayani solar, hanya saja tidak ber-struk.

“Sekarang ini (Kamis red) kita sudah uji praktik ke SPBU Kayuambua. Setelah ini, kita akan kerahkan petugas untuk mengangkut tumpukan-tumpukan sampah di sejumlah titik yang belum terangkut kemarin (Rabu red). Untuk menuntaskan pengangkutan itu, kita akan siapkan petugas pengangkut untuk lembur. Dengan begitu proses pengangkutan sampah bisa lebih cepat, ”ujar Yudi Sutha. (eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.