Sales Executive LPG Bali PT. Pertamina Rainier Axel Gultom. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di Bali penjualan LPG non subsidi 40 metrik ton per hari. Dari penjualan tersebut diprediksi hanya 60 persen yang menggunakan produk resmi Pertamina. Sisanya sekitar 35-40 persen merupakan LPG oplosan.

Sales Executive LPG Bali PT. Pertamina Rainier Axel Gultom mengatakan, pengoplosan biasanya terjadi di level pengecer. Karena rantai distribusi Pertamina dari SPBE ke agen kemudian pangkalan resmi dijamin tidak akan terjadi pengoplosan.

Mereka tercipta bukan karena niat, tapi karena pasarnya ada. Bali merupakan user terbanyak karena merupakan daerah pariwisata. “Pasar ada bukan berarti ada yang meminta tapi sistemnya mereka menawarkan ke hotel-hotel,” ujarnya Kamis (17/5).

Dengan pengoplosan, oknum tersebut bisa menjual dengan harga lebih murah dibandingkan harga resmi pertamina. Namun dari sisi keselamatan juga sangat berisiko.

Pengoplosan tentunya dilakukan dengan cara tidak standar. Sedangkan pengisian di sarana fasilitas Pertamina sudah pasti terjaga tepat isi dan kualitasnya. “Mereka pasti tidak memiliki stasiun pengisian resmi. Sudah pasti mereka pakai cara yang manual tradisional. Ini taruhannya banyak sekali bocor, sangat rentan sekali tabung mereka tidak masuk ke bengkel pemeliharaan tabung,” bebernya.

Tabung yg sudah mulai rusak baik secara visual maupun kualitas oleh Pertamina akan selalu dicek dan pasti dimasukkan ke bengkel pemeliharaan. “Mereka pasti tidak punya itu jadi kualitas tabung mereka tidak terjaga,” imbuhnya.

Baca juga:  Pengoplos LPG di Badung Terciduk Tim Monitoring, Pemilik Ngaku Tugas di Mabes Polri

Dari sisi ekonomis, isi tabung juga bisa tidak sesuai, bisa berkurang 1-2kg. Misalnya tabung 12 kg bisa saja berisi 10,5kg atau 11 kg. Selain itu margin yang didapatkan juga sangat tinggi. Misalnya harga resmi LPG dari Pertamina untuk tabung 12 kg adalah Rp 142 ribu. Pengoplos bisa menjual lebih murah yaitu Rp 110 ribu. “Mereka mendapatkan margin sangat tinggi sekitar Rp 20-30 ribu. Sementara ongkos produksi Rp 60 ribu. Berarti untungnya 100 persen,” bebernya.

Maka dari itu, ia mengimbau masyarakat utamanya kalangan pengusahan hotel, restaurant untuk membeli gas LPG di 22 agen resmi Pertamina di Bali. Sebanyak 22 agen LPG resmi non subsidi itu bisa menyuplai ke seluruh wilayah Bali.

Mengingat hotel, restaurant biasanya menggunakan tabung 50kg, maka tidak disarankan membeli di luar agen resmi. “Sekarang kami giat memberikan sosialisasi ke perhotelan untuk harga resmi Pertamina dan penyalur resmi Pertamina,” tandasnya.

Ciri-ciri tabung yang dioplos adalah, pada tabung 5,5kg dan 12 kg tidak menggunakan seal caps berupa hologram dan barcode. “Mereka seal capsnya masih pakai stiker atau memakai seal caps 3 kg,” ungkapnya. Sedangkan pada tabung resmi Pertamina ukuran 50kg memakai segel timah.(citta maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.