Sampah
Masyarakat di Desa Petang, Kecamatan Petang tetaptnya di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) II Petang mengolah sampah organik menjadi pupuk. (BP/par)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Sampah menjadi momok bagi semua daerah, termasuk Bali. Selain mengeluarkan bau tak sedap, tumpukan sisa hasil produksi atau rumah tangga ini juga menimbulkan kesan kumuh. Berbeda halnya dengan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) II Petang. Limbah yang dianggap akan mencemari lingkungan justru diolah menjadi rupiah. Sayangnya, inovasi pengelola sampah menjadi pupuk organik ini masih terkendala pemasaran.

Ketua TPST, Ketut Sukarta, mengatakan usaha mandiri yang berlokasi di Desa Petang, Kecamatan Petang tersebut masih berupaya sendiri untuk mencari pasar. “Kami masih mandiri dalam pemasaran. Produksi pun disesuai dengan permintaan,” ungkap Ketut Sukarta, belum lama ini.

Pupuk organik yang dihasilkan di TPST yang dikenal dengan TPST Tandan Sari itu tidak hanya berkutat di wilayah Badung Utara, melainkan lintas kabupaten. Seperti Karangasem dan Tabanan. “Kami hanya memasok pupuk, sedangkan labelnya atas nama perusahaan lain,” katanya.

Menurutnya, olahan sampah organi yang telah ditekuni sejak 2010 telah lulus uji laboratorium. Karena itu, pupuk yang dihasilkan betul-betul memenuhi persyaratan kandungan pupuk organik. “Uji lab kami lakukan mandiri dengan bantuan pihak swasta dari Tabanan, sehingga hasilnya sesuai standar,” jelasnya.

Baca juga:  Saat Mudik, Volume Sampah di Gilimanuk Mencapai 30 Kubik

Dijelaskan, ide mengolah sampah menjadi pupuk organik itu berawal dari melimpahnya sampah organik di wilayahnya. “Jadi saya punya inisiatif untuk membakarnya dan menjadikannya salah satu bahan baku pupuk organik. Kan pupuk organik perlu arang,” ucapnya.

Salah satu sampah organik yang dimanfaatkan adalah lidi pohon aren sisa produksi keterampilan rumah tangga. Lidi ron yang dikenal oleh masyarakat Bali awalnya dibuang begitu saja dan perlu waktu lama untuk pelapukan. “Kami juga membeli kotoran ternak, khususnya sapi dari masyarakat, kan lumayan mereka ada pemasukan,” ujarnya.

Dikatakan, pihaknya kini telah mempekerjakan sekitar 10 orang tenaga dari masyarakat setempat. “Hasilnya kami jual dengan harga Rp 800 per kilonya. Itu belum nantinya dipotong pembelian karung, transportasi, dan lain-lain. Jadi keuntungan per kilonya di bawah Rp 100,” sebutnya.

Sukarta pun mengaku masih berjuang keras untuk menyosialisasikan penggunaan pupuk organik. Di samping pemerintah yang menurutnya masih ewuh pakewuh konsentrasi ke penggunaan pupuk organik, juga sebagian besar masyarakat masih bergantung pada pupuk anorganik. “Selain penggunaan lebih sedikit juga menekan pengeluaran, hasilnya lebih cepat,” pungkasnya.(parwata/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.