
MANGUPURA, BALIPOST.com – Volume sampah kiriman yang terbawa angin muson barat dan menepi di sejumlah pantai di Kabupaten Badung mulai menunjukkan tren penurunan. Jika pada akhir 2025 hingga Februari lalu jumlahnya sempat mencapai ratusan ton per hari, kini volume sampah yang terdampar di pesisir Badung hanya berkisar puluhan ton.
Berdasarkan data yang dihimpun, Kamis (12/3), total sampah yang masuk ke Stop Over atau tempat penampungan sementara selama sepekan terakhir mencapai 360 ton. Sampah tersebut berasal dari beberapa titik pantai, yakni Pantai Kedonganan sebanyak 282 ton, Pantai Jimbaran 54 ton, dan Pantai Kuta 24 ton.
Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung, A.A Gede Agung Dalem, mengakui adanya penurunan volume sampah kiriman dibandingkan bulan sebelumnya. Menurutnya, kondisi ini diperkirakan akan terus membaik seiring peralihan musim.
“Biasanya April baru biasanya mereda, kalau sekarang rata-rata perhari masih mencapai 50 ton, tapi kalau dibandingkan bulan Februari sekarang jauh lebih berkurang,” ungkapnya.
Meski mulai berkurang, petugas masih menemukan dominasi sampah plastik di sejumlah titik pantai. Pantai Kedonganan menjadi lokasi dengan timbunan sampah paling banyak dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, puluhan truk sampah masih harus dikerahkan untuk mengangkut limbah yang terdampar di kawasan tersebut.
“Hari ini (kemarin -red) sampah plastik di Kedonganan dimana 29 truk terkumpul di STO Balawista Kedonganan,” terangnya.
DLHK Badung hingga kini terus mengerahkan petugas kebersihan untuk membersihkan sampah yang terbawa arus laut dan terdampar di garis pantai. Selain di pesisir, pembersihan juga difokuskan pada muara-muara sungai yang menjadi jalur masuk sampah menuju laut. “Sampai saat ini masih kita lakukan pembersihan sampah yang hanyut di muara muara sungai ketika hujan kemarin,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, perubahan pola kemunculan sampah kiriman juga dipengaruhi oleh tingginya curah hujan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Aliran sungai yang deras membawa berbagai jenis sampah ke laut, sebelum akhirnya terbawa arus dan menepi di kawasan pantai Badung.
Fenomena ini bahkan menunjukkan perubahan siklus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu sampah kiriman biasanya mulai muncul pada Desember, kini tumpukan sampah sudah lebih dulu terlihat di wilayah hulu pesisir. “Kalau dulu-dulu kan Desember baru datang sampah kiriman, tapi sekarang rutin menepi di bagian hulu seperti Pantai Cemagi dan Berawa,” tegasnya.
Dikatakan, pihaknya terus mengoptimalkan pembersihan pantai serta mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai, mengingat sebagian besar sampah kiriman berasal dari aliran sungai yang bermuara ke laut. (Parwata/balipost)










