Banjir melanda kawasan Kuta, Selasa (24/2). (BP/Ist)

DENPASAR, BALIPOST.com – Selain ketegangan dunia di tengah serangan Amerika Serikat (AS) – Israel kepada Iran, pariwisata Bali juga masih dihadapi dengan tantangan sampah dan banjir. Terlebih kondisi ini terjadi pada daerah-daerah pariwisata yakni Badung dan Denpasar.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Denpasar, Ida Bagus Gede Sidartha, Senin (2/3) mengatakan, peristiwa banjir yang terjadi minggu lalu berdampak langsung terhadap citra pariwisata Bali.

“Keluhan dari wisatawan banyak sekali. Terutama yang terdampak banjir, ada tamu yang sampai tidak bisa keluar dari vila berhari-hari. Bahkan ada yang harus dibantu dievakuasi,” ujarnya.

Baca juga:  Sembunyi di Bali Sejak November 2021, Buronan Interpol Ditangkap di Tabanan

Menurutnya, dampak tidak hanya dirasakan tamu yang menginap di kawasan terdampak. Wisatawan yang berada di hotel-hotel lain pun ikut kesulitan beraktivitas karena akses jalan tergenang dan transportasi daring tidak beroperasi normal.

Kondisi ini, menurutnya, begitu berpengaruh kepada citra pariwisata Bali. Terlebih berita saat ini yang begitu cepat menyebar. Tamu yang seharusnya bisa datang ke Bali akan mengurungkan niatnya.

Dengan itu, kedepan harus mulai diperbaiki dan mencari solusi yang tepat. Banjir dan sampah ini menjadi tanggung jawab bersama, termasuk pemerintah. Gusde panggilan akrabnya juga menyoroti persoalan tata ruang dan kesiapan infrastruktur.

Baca juga:  BPBD Verifikasi 11 Proposal Bantuan Bencana

Menurutnya, pembangunan akomodasi berkembang begitu pesat tanpa kesiapan yang matang. “Pembangunan vila di sawah misalnya, tanpa adanya gorong-gorong air, tanpa adanya fasilitas sampah atau mungkin listrik pun belum ada tapi vila sudah jadi. Kalau di luar negeri seperti di Amerika dia sudah terintergrasi. Mereka membangun pada daerah yang memang dibolehkan terutama tidak merusak sawah,” katanya.

Ia berharap peristiwa banjir ini menjadi momentum pembenahan menyeluruh. Penegakan aturan tata ruang dan kesiapan infrastruktur dinilai penting agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan masyarakat maupun pelaku pariwisata.

Baca juga:  Pantai Pasir Putih Masih Jadi Rebutan Bugbug dan Perasi

“Ini bukan hanya soal wisatawan, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sana. Anak-anak tidak bisa sekolah, warga sulit beraktivitas. Jadi ini persoalan bersama yang harus diselesaikan dengan serius,” terangnya.

Di tengah tantangan global, kondisi internal daerah dinilai menjadi faktor yang tidak kalah menentukan. Upaya perbaikan penanganan banjir, pengelolaan sampah, serta penataan kawasan diharapkan mampu menjaga citra Bali sebagai destinasi unggulan yang berkualitas dan berkelanjutan. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN