Kopi robusta
Petani saat sedang mengeringkan kopi robusta Pupuan. (BP/dok)
TABANAN, BALIPOST.com – Agar mampu bertahan menjadi seorang petani, mengikuti kemajuan teknologi adalah salah satu hal yang harus dilakukan. Hal inilah yang diterapkan oleh Wayan Dira yang berprofesi sebagai petani kopi.

Petani asal Desa Pujungan Pupuan ini mengatakan untuk bisa bertahan di era kemajuan teknologi saat ini, petani harus mengikuti perkembangan jaman dan tidak hanya berpegangan pada pola tanam jaman dulu. Dira melanjutkan ia melanjutkan profesi nenek moyangnya menjadi petani.

Di Desa Pujungan tempat ia berasal, luas lahan perkebunan bisa mencapai 1.000 hektar dan untuk lahan miliknya sekitar 1,5 hektar yang ditanami tidak hanya kopi tetapi tanaman perkebunan lainnya seperti manggis. Tantangan menjadi petani saat ini belum berubah yaitu sangat tergantung dari alam. “Jika cuaca mendukung maka hasilnya bagus. Tetapi jika cuacanya buruk maka panennya tidak bagus. Cuaca memang masih menjadi tantangan utama,” kata Dira.

Sebagai Petani, Dira mengaku tidak hanya terpaku pada pengelolaan pertanian zaman dulu. Ia menerapkan kemajuan teknologi pertanian untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kopi Pupuan.

Menurutnya dengan pengolahan tanah serta pengelolaan kopi pasca panen bisa memberikan nilai tambah yang sangat baik bagi penjualan kopi dan tentunya menambah pendapatan. Penerapan ini membuahkan hasil. Saat ini kopi robusta Pupuan sudah mulai dilirik negara luar karena cita rasanya. “Intinya adalah membuahkan buah kopi berkualitas dan melakukan petik merah. Ini yang saya tularkan kepada petani lainnya,” ujar Dira yang juga terjun ke dunia penjualan serta ekspor kopi ini.

Baca juga:  Tingkatkan Produksi Kopi, Bangli akan Kembangkan Pembibitan di Desa Catur

Karena pengelolaan pascapanen yang baik membuat kopi robusta Pupuan pun diminati warga luar negeri, terutama Korea dan beberapa waktu lalu, Tabanan dalam hal ini Pupuan sudah berhasil mengekspor kopi ke Korea. Selain luar negeri, Kopi Pupuan juga telah dikirim ke luar Bali, salah satunya Jakarta.

Ekspor kopi ini tentu menambah pendapatan petani di Pupuan karena harga jualnya lebih mahal dibandingkan untuk pasar domestik. “Semakin baik kualitas kopinya maka akan semakin banyak kuantitas yang diekspor. Harga jual tentu lebih tinggi,” ujar Dira.

Menurut Dira, petani kopi harus terus melakukan inovasi agar produk kopinya tetap bertahan bahkan semakin diminati oleh pasar. Jika tidak mempertahankan kualitas maka lama kelamaan kopi Pupuan akan tersingkirkan oleh kopi dari daerah lain. “Tentu kita tidak ingin produk lokal tersisih. Untuk itu meningkatkan kualitas sangat penting,” ujarnya. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.