flu
Semprot ternak. (BP/olo)
NEGARA, BALIPOST.com – Merebaknya flu burung di Klungkung, turut diantisipasi di Jembrana. Sebagai jalur perbatasan antarpulau dan daerah yang pernah terjangkit flu burung, sejumlah upaya rutin diintensifkan. Karantina Pertanian Kelas I Denpasar Wilayah Kerja (Wilker) Gilimanuk, meningkatkan pengawasan lalulintas keluar masuk pengiriman unggas melalui Pelabuhan Gilimanuk.

Sementara tim Kesehatan Hewan dari Bidang Keswan dan Kesmavet, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana melakukan penyemprotan (spraying) ke kandang-kandang unggas terutama di pasar tradisional.

Penanggungjawab Karantina Gilimanuk, Ida Bagus Eka Ludra Senin (18/9) mengatakan terkait adanya flu burung karantina meningkatkan pengawasan lalu lintas unggas. Sesuai dengan Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 44 tahun 2005, tentang larangan sementara keluar masuk unggas hidup (kecuali DOC) ke Bali masih berlaku hingga saat ini. Selain itu, pengawasan juga dilakukan terkait daging olahan tanpa dokumen Karantina asal.  “Walaupun sebenarnya resikonya kecil, tetapi kita juga awasi pemasukan daging (unggas). Apalagi ketika tanpa dilengkapi dokumen karantina,” ujarnya.

Dokumen berupa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari Karantina asal. Surat itulah untuk memastikan kondisi daging sehat segar.

Di sisi lain, Dinas terkait juga melakukan antisipasi pencegahan flu burung (H5NI) di wilayah Jembrana. Salah satunya dengan spraying di kandang-kandang unggas yang dijual di pasar.

Baca juga:  Restribusi Pasar Hewan Kayuambua Meningkat

Kabid Keswan dan Kesmavet, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, Anak Agung Mahadikara mengungkapkan penyemprotan untuk antisipasi penyakit unggas itu dilakukan rutin setiap tiga bulan sekali. “Sebenarnya (spraying) ini untuk edukasi ke masyarakat juga, agar menjaga kesehatan hewan termasuk unggas,” tukasnya.

Penyemprotan teranyar dilakukan pada Jumat (15/9) lalu di kandang unggas di Pasar Umum Negara. Hingga, menurutnya belum ada laporan terkait kejadian unggas yang banyak mati mengarah ke Flu Burung. Namun, petugas menurutnya tetap siaga untuk mengambil tindakan ketika muncul indikasi ada kondisi tersebut. Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk aktiv melaporkan bila ada unggas mati massal.

Tahun 2016 lalu, Jembrana pernah mengalami flu burung hingga menelan korban jiwa tepatnya di Desa Dangintukadaya, Kecamatan Jembrana. Bahkan saat itu dilakukan pemusnahan massal unggas-unggas di sekitar lokasi. Namun selama 10 tahun terakhir, sejumlah kejadian ayam mati masih banyak ditemui namun belum mengarah H5NI. (surya dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.