Salah satu lokasi parkiran kendaraan di Kota Denpasar. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com – Hingga sekarang, RSUP Sanglah belum mempunyai perencanaan yang matang tentang pembangunan parkir. Padahal pada direksi RSUP Sanglah sebelumnya, di 2015 sudah sempat merancang akan membangun parkir bertingkat dengan bekerjasama dengan vendor-vendor. Pedoman kontes untuk pemilihan vendor pembangunan parkir juga sudah sempat dibuat. Namun hingga sekarang, rencana parkir bertingkat belum terealisasi.

Pada kepemimpinan RSUP Sanglah yang baru, justru yang menjadi persoalan utama adalah masterplan. RSUP Sanglah belum memiliki masterplan pembangunan, termasuk pembangunan parkir. “Sebenarnya kendala utamanya di masterplan. Di masterplan tidak ada parkir bertingkat. Kita sedang mau me-review masterplan sebelumnya karena tidak memadai. Sekarang banyak bangunan yang dibangun di luar masterplan. Sehingga kami harus merubah masterplan sesuai rencana ke depan,” ungkap Dra. Nining Setyawati, Direktur Umum dan Operasional RSUP Sanglah, Selasa (9/5).

Setelah masterplan ada, baru kemudian dianggarkan. Diakui, RSUP Sanglah tidak memiliki anggaran untuk pembangunan parkir. “Karena untuk operasional saja, kita mepet banget,” katanya.

Namun pihaknya akan mengajukan proposal permohonan anggaran ke pemerintah provinsi untuk pembangunan parkir. Ada dua alternative pembangunan parkir yang akan diajukan yaitu pembangunan parkir berupa gedung dan knockdown. “Tapi parkir di bawah tanah sepertinya tidak bisa karena air tanahnya disini deras. Jadi kalau ke bawah, biayanya besar, membuat basement biayanya berlipat,” jelasnya.

Baca juga:  1 Kasus Positif Difteri, Bali akan Berstatus KLB Difteri

Jika proposal tersebut disetujui dan sudah ada dana, lahan parkir bisa dibuat meski masterplannya menyesuaikan belakangan. Penyelesaian masterplan pembangunan RSUP Sanglah bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Udayana.

Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta saat berkunjung ke RSUP Sanglah mengemukakan usulannya kepada jajaran direksi RSUP Sanglah. Ia mengatakan, secara fisik, kendaraan yang parkir di wilayah RS sangat crowded. Apalagi ada Fakultas Hukum dan Fakultas Sastra Unud.

Oleh karena itu, ia mengusulkan parkir bawah tanah atau parkir bertingkat sebagai bentuk solusi. Sehingga bisa dilakukan penataan lain yang mendukung seperti penataan pedagang acung dan angkutan umum. “Dari sisi bangunan sudah bagus, tapi perlu dikemas, mana pembangunan yang membutuhkan ruangan banyak, maka perlu dinaikkan, jangan flat semua,” katanya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.