
BANGLI, BALIPOST.com – Penataan Dermaga Kedisan, Kintamani, membawa dampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan. Namun demikian, peningkatan kunjungan tersebut sebagian besar didominasi oleh wisatawan yang datang untuk berswafoto (selfie). Sementara minat wisatawan untuk menyeberang ke Desa Trunyan masih tergolong landai.
“Pengaruh sih ada untuk kunjungan ke dermaga, tapi kebanyakan selfie, ya. Kalau masalah ke Desa Trunyan itu hampir sama lah seperti tahun-tahun yang lalu,” ungkap Plt. Kepala UPT Penyebrangan Danau Batur, I Wayan Seridana, Jumat (30/10).
Menurutnya, salah satu kendala utama yang membuat minat wisatawan menyeberang ke Desa Trunyan belum meningkat tajam adalah faktor biaya. Tarif tiket penyeberangan yang relatif mahal masih menjadi keluhan utama bagi sebagian wisatawan. “Kebanyakan wisatawan itu keluhannya di sana,” tambah Seridana.
Berdasarkan data yang dimilikinya jumlah boat yang menyebrang dari Dermaga Kedisan ke Terunyan tercatat fluktuatif mengikuti musim kunjungan. Pada Agustus lalu, penyeberangan sekitar 90 boat per bulan. Angka tersebut menurun menjadi 63 boat pada September.
Seridana memprediksi jumlah wisatawan yang menyebrang pada Oktober dan Nopember masih akan melandai. Seperti pengalaman sebelumnya biasanya lonjakan penyebrangan terjadi jelang akhir tahun saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). “Kalau kami lihat dari pengalamannya, akhir Desember kemungkinan lagi kunjungannya ramai,” ujarnya.
Sebagaimana yang diketahui jalur perairan melalui Dermaga Kedisan ini merupakan salah satu sarana utama bagi wisatawan yang hendak menuju Desa Terunyan. Desa tersebut menjadi salah satu destinasi favorit di Kintamani yang terkenal berkat keunikan tradisi pemakaman tanpa menguburkan jenazah. (Dayu Swasrina/balipost)










