Antrean kendaraan barang masih terjadi di depan Gelung Kori, Gilimanuk, Kamis (29/10) siang, setelah bongkar muat di Dermaga LCM Pelabuhan Gilimanuk terganggu akibat air laut surut. (BP/ist)

NEGARA, BALIPOST.com – Aktivitas bongkar muat di Dermaga Landing Craft Machine (LCM) Pelabuhan Gilimanuk berangsur normal pada Kamis (29/10). Kapal kembali melayani bongkar muat kendaraan secara bertahap mulai sekitar pukul 09.00 WITA, setelah sempat terganggu fenomena surutnya air laut.

Meski begitu, antrean kendaraan barang pada Kamis siang masih terjadi. Ekor antrean sempat mengular hingga kawasan Gelung Kori, dan baru perlahan terurai.

Gangguan surut air laut ini sebenarnya sudah terjadi sejak Rabu (28/10) pagi. Air laut surut sejak pukul 04.00 WITA membuat kapal sulit bersandar di Dermaga LCM, yang juga dikenal sebagai dermaga plengsengan, karena pintu ramp door kapal tidak dapat menjangkau dermaga dengan baik, seperti dijelaskan Manager Humas ASDP Cabang Ketapang, Bintang Felfian. Bongkar muat baru bisa dilakukan pukul 10.00 WITA, saat air mulai pasang.

Pada Rabu itu, antrean kendaraan logistik keluar Bali sempat mengular sekitar 1,5 kilometer, dari depan Pasar Gilimanuk hingga depan Kantor PDAM Gilimanuk. Sementara itu, Dermaga MB II masih dalam perbaikan, sehingga hanya Dermaga 4 yang berkapasitas tonase besar selain LCM.

Baca juga:  Sejumlah LSM Protes Rencana "Sand Stockpile" di Bukit Gumang

Dampak penumpukan kendaraan selama terhentinya operasional masih terasa hingga Kamis pagi. Sejumlah sopir truk terpaksa bertahan belasan jam di jalur antrean. Salah satunya Buhori, sopir truk asal Probolinggo, yang mengaku sudah antre sejak pukul 02.00 dini hari hingga daerah Cekik.

“Sudah antre dari jam 02.00 dini hari, sampai di daerah Cekik. Ini masih menunggu giliran masuk ke kapal,” ungkap Buhori.

Ia mengeluhkan lambatnya pergerakan antrean. “Dulu setelah bongkar langsung muat, sekarang habis bongkar sering diam dulu. Harapannya proses bisa dipercepat supaya tidak lambat. Kalau antre terlalu lama, uang saku sopir habis terpakai untuk makan di jalan,” tambahnya.

Antrean panjang itu juga menimbulkan kerusakan fasilitas di sekitar pelabuhan. Lurah Gilimanuk, Ida Bagus Tony Wirahadikusuma, mengatakan sebuah gapura batas lingkungan di sebelah masjid besar Gilimanuk tersenggol kendaraan hingga roboh pada dini hari tadi.

“Yang pertama, ada fasilitas kita yang rusak, salah satu gapura batas lingkungan,” ujarnya, ketika dikonfirmasi wartawan.

Ia menjelaskan, kendaraan jenis colt diesel, baik box maupun biasa, sebenarnya diarahkan masuk menuju Gang I. Namun karena Gang I sudah penuh, puluhan sopir box mengarahkan kendaraannya kembali keluar ke jalan utama. Karena antrean cukup panjang, gapura itu pun tersenggol hingga roboh.

Baca juga:  Mantan Jubir KPK Febri Diansyah Jadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah

Soal panjang antrean, ia memperkirakan antrean mencapai sekitar 3 kilometer dari bibir pelabuhan. “Perkiraan antrean ini sampai hari tadi kurang lebih sekitar 3 kilo dari bibir pelabuhan,” katanya.

Sementara itu, Kapolsek Gilimanuk, AKP Gusti Kade Alit Murdiasa, melaporkan aktivitas bongkar muat di Dermaga LCM baru dimulai, setelah beberapa hari sebelumnya terhambat karena air laut surut hingga ambang batas toleransi, sehingga bongkar muat otomatis terhenti.

Menurutnya, antrean di jalur menuju pelabuhan didominasi truk tronton dan kendaraan kecil lainnya. Anggotanya mengatur antrean agar tidak ada kendaraan yang menyerobot dan tidak terjadi kemacetan dua arah. Sejauh ini hal itu tidak terjadi, padahal sebelumnya kendaraan dari arah pelabuhan menuju pasar sempat tidak bisa bergerak karena ada
kendaraan yang menyerobot antrean.

“Kami sudah mengedukasi kepada pengguna jalan seluruhnya lewat WA Group, sehingga mereka tahu kemacetan terjadi bukan karena faktor manusia, itu murni faktor alam,” ujarnya.

Baca juga:  13.246 Siswa SD di Denpasar Ikuti TKA Hari Pertama

Ia menambahkan, volume kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk memang cukup padat. Ekor antrean pada Kamis pagi sampai lewat pembangkit listrik tenaga surya, sekitar 2 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk, dan hingga hari ini antrean masih terjadi.

Soal sampai kapan kondisi ini berlangsung, ia menegaskan faktor alam tidak bisa diprediksi. “Kalau masalah alam, kita tidak bisa prediksi. Namanya juga alam, kita tidak bisa memprediksi pasang surutnya,” katanya, seraya berharap kondisi ini cepat teratasi dan tidak berlangsung lama.

Ia menjelaskan, durasi surut pada kejadian sebelumnya berlangsung dari sekitar pukul 03.00–04.00 hingga pukul 10.00 pagi, saat air mulai pasang dan bongkar muat bisa berjalan lagi. Penundaan keberangkatan kapal, menurutnya, murni karena pasang surut air laut, ditambah volume kendaraan masuk dan keluar Bali yang padat, serta perbaikan atau
revitalisasi Dermaga MB2 untuk menambah daya tampung dan daya angkut kapal.

Hingga Kamis siang, petugas pelabuhan bersama kepolisian setempat terus mengintensifkan rekayasa lalu lintas dan mempercepat rotasi kapal di dermaga guna memastikan antrean kendaraan dapat terurai sepenuhnya. (surya dharma/balipost)

BAGIKAN