Pengendalian OPT di salah satu lahan pertanian di Tabanan. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) masih mengancam tanaman padi di Kabupaten Tabanan. Berdasarkan laporan pengamatan periode 1–15 Oktober 2026, serangan tikus tertinggi tercatat di Kecamatan Marga seluas 55 hektare. Kondisi ini menambah tantangan petani di tengah musim kemarau yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman hingga menyebabkan puso.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Gusti Putu Purnayasa mengatakan, serangan OPT yang terpantau di sejumlah wilayah masih tergolong ringan. Meski demikian, pengawasan tetap diperlukan untuk mencegah perkembangan hama yang dapat mengganggu pertumbuhan dan hasil panen. “Perkembangan serangan tetap perlu diawasi agar tidak mengganggu pertumbuhan dan potensi hasil panen petani,” tuturnya, Jumat (23/10).

Baca juga:  Prakiraan Cuaca 1 Juli 2025, Bali akan Berawan dan Berpotensi Angin Kencang

Berdasarkan data POPT, serangan tikus ditemukan di lima kecamatan. Selain Marga, serangan tercatat di Kecamatan Baturiti seluas 45 hektare, Penebel 40 hektare, serta Kerambitan dan Selemadeg Timur masing-masing 20 hektare.

Selain tikus, petugas mencatat serangan penggerek batang di Kecamatan Selemadeg seluas 20 hektare dan Kecamatan Marga seluas 20 hektare. Kecamatan Marga menjadi wilayah dengan dua jenis gangguan yakni tikus dan penggerek batang.

Baca juga:  Kemarau Panjang, Pemkab Bahas Krisis Air di Badung Selatan

Dikatakan Purnayasa, untuk tanaman padi yang terdampak berada pada fase pertumbuhan berbeda. Sebagian masih berada pada fase primordia atau pembentukan bakal malai, sedangkan sebagian lainnya sudah mendekati masa panen.

Terkait dengan gangguan OPT, petugas juga telah melakukan pengendalian di sejumlah wilayah. Di Marga, pengendalian untuk serangan tikus dan penggerek batang tercatat seluas 75 hektare. Pengendalian tikus di Baturiti mencapai 45 hektare, Penebel 40 hektare, serta Kerambitan dan Selemadeg Timur masing-masing 20 hektare. Sementara itu, pengendalian serangan penggerek batang di Selemadeg tercatat seluas 20 hektare.

Baca juga:  Kemarau Panjang, BPBD Tabanan Siaga Air Bersih dan Waspadai Longsor

Di tengah ancaman OPT, petani juga perlu mewaspadai dampak kemarau terhadap ketersediaan air bagi tanaman padi. Kekurangan air yang berkepanjangan dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan risiko gagal panen.

Purnayasa menegaskan, pemantauan lapangan tentunya sangat perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mengetahui perkembangan serangan sekaligus mengantisipasi dampak kemarau. Koordinasi antara petani dan petugas pertanian juga diharapkan dapat membantu penanganan hama secara tepat sehingga kerusakan tanaman dapat ditekan. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN