Jajaran Perumda Air Minum Tirta Amertha Jati Jembrana meninjau kondisi Sungai Pangkung Gayung di Desa Berangbang yang debit airnya menyusut akibat kemarau panjang. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Kemarau panjang membuat debit air di Sungai Pangkung Gayung, Desa Berangbang, Kecamatan Negara, menyusut. Kondisi tersebut memicu perselisihan antarwarga yang sama-sama membutuhkan air.

Perselisihan melibatkan dua kelompok pemanfaat sumber air itu yakni BUMDes Desa Berangbang dan kelompok pengelola air bersih. Keduanya disebut saling berebut mengambil air karena debit yang semakin kecil.

Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Amertha Jati Jembrana, I Gede Puriawan, membenarkan adanya keributan di kawasan sumber air tersebut. “Memang kemarin ada keributan di hulu, di sumber air. Ada kelompok dan BUMDes yang saling berebut mengambil air,” kata Puriawan.

Baca juga:  Bali Laporkan 10 Korban Jiwa COVID-19, Meninggalnya dari Sebulan Lalu hingga Hari Ini

Menurutnya, PDAM langsung turun ke lokasi setelah menerima laporan masyarakat untuk melihat kondisi debit air sekaligus mencari akar persoalan. “Kami langsung ke sana untuk melihat bagaimana debitnya, kemudian apa permasalahannya. Setelah itu baru kami cari solusinya,” katanya.

Puriawan menjelaskan, debit air yang minim membuat sumber air itu tidak mungkin dimanfaatkan secara bersamaan. Jika seluruh kelompok mengambil air dalam waktu yang sama, tekanan air menjadi sangat kecil sehingga sebagian warga tidak kebagian pasokan.

Perselisihan bahkan sempat berujung aksi buka-tutup pipa. “Karena debitnya memang kecil, tidak mungkin digunakan bersamaan. Kalau bersamaan, tekanannya kecil. Kemarin ada yang membuka pipa, ada yang menutup, bahkan ada pipa yang dibongkar,” ungkapnya.

Baca juga:  Denpasar Nihil Penambahan Kasus Positif, 1 Pasien Covid-19 Sembuh

Untuk mencegah konflik terulang, perumda akan menggelar rapat bersama seluruh pihak pada Jumat nanti. Pertemuan itu akan membahas mekanisme pembagian air secara bergiliran yang dituangkan dalam jadwal tertulis.

“Jumat saya sudah bersurat untuk rapat membicarakan sistem giliran. Nanti ditentukan siapa yang melaksanakan penutupan pipa, berapa hari gilirannya, dan siapa saja yang mendapat giliran. Semua dibuatkan jadwal tertulis,” jelasnya.

Puriawan menilai kesepakatan tertulis penting agar seluruh pihak memahami pembagian air dan tidak kembali saling rebut di lapangan. Terlebih, BUMDes Berangbang memiliki sekitar 700 pelanggan yang membutuhkan pasokan air. “BUMDes Berangbang memiliki banyak pelanggan, sekitar 700 warga. Kalau tidak dimitigasi, bisa terjadi keributan lagi di lapangan,” tandasnya.

Baca juga:  WCCE Hasilkan "Bali Creative Economy Roadmap"

Ia menegaskan, akar persoalannya adalah menurunnya debit air akibat musim kemarau. “Memang sumber airnya kecil karena musim kemarau. Semua warga mengambil air dari sungai, sehingga banyak pipa yang dipasang di sana. Karena airnya kecil, akhirnya mereka berebut,” pungkasnya. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN