BPBD Tabanan bersama Perumda Tirta Amertha Buana menyalurkan bantuan 30.000 liter air bersih kepada warga terdampak kemarau di Desa Antosari, Kecamatan Selemadeg Barat.(BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Dampak kemarau berkepanjangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabanan bersama Perumda Tirta Amertha Buana menyalurkan 30.000 liter air bersih kepada 150 kepala keluarga (KK) di Desa Antosari, Kecamatan Selemadeg Barat, Senin (12/10). Bantuan tersebut disalurkan di tiga wilayah, yakni Banjar Dinas Anyar, Banjar Petiles, dan Banjar Dinas Uma Seka.

Kepala Pelaksana BPBD Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri, mengatakan distribusi air bersih merupakan langkah tanggap darurat pemerintah daerah untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan air akibat musim kemarau. Masing-masing banjar menerima 10.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan 50 KK.

Menurutnya, penyaluran dilakukan melalui kerja sama dengan Perumda Tirta Amertha Buana agar kebutuhan dasar warga terdampak dapat terbantu.

Baca juga:  Pangdam IX Udayana Bantu Jaringan Pipa di Desa Kayu Putih Melaka

“Sebanyak 30.000 liter air bersih telah disalurkan ke tiga banjar di Desa Antosari. Pendistribusian berjalan aman dan lancar sebagai upaya membantu warga memenuhi kebutuhan air sehari-hari,” ujarnya.

BPBD Tabanan juga mengimbau masyarakat yang membutuhkan bantuan air bersih maupun penanganan darurat kebencanaan agar menghubungi Pusdalops-PB BPBD Tabanan. Penyaluran bantuan ini tentu upaya pemerintah daerah dalam menangani dampak kemarau dan menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Tak hanya penyaluran air bersih pada desa terdampak kemarau, BPBD juga membuat surat imbauan kesiapsiagaan menghadapi musim penghujan 2026–2027. Langkah ini diambil guna mengurangi risiko bencana alam seperti pohon tumbang serta dampak cuaca ekstrem di seluruh wilayah Kabupaten Tabanan.

Baca juga:  Masih Berbau Diasinon, Warga Diminta Tidak Konsumsi Air Desa

Srinada Giri mengatakan hal itu sesuai arahan resmi dari BPBD Provinsi Bali. Berdasarkan rilis BMKG Wilayah III Denpasar, awal musim hujan di wilayah Bali diprakirakan dimulai secara bertahap pada bulan November 2026 (15 %) dan puncaknya meluas pada bulan Desember 2026 (85%).

“Sesuai dengan prediksi BMKG, kita harus mulai bersiap sebelum memasuki puncak musim hujan di bulan November dan Desember. Karena itu, kami mengimbau seluruh Camat se-Kabupaten Tabanan untuk menginisiasi koordinasi dengan instansi terkait guna melakukan perawatan dan perompesan pohon perindang yang dinilai membahayakan. Langkah ini penting dilakukan secara gotong-royong maupun mandiri untuk meminimalkan risiko pohon tumbang atau dahan patah yang menimpa warga,” ujarnya.

Baca juga:  Kejati Bali Bidik Dugaan Korupsi Pembiayaan Karantina COVID-19

Dalam imbauan tersebut, perompesan dahan pohon difokuskan pada area jalan raya, lingkungan perkantoran, fasilitas umum, hingga kawasan pemukiman warga. Selain pemangkasan pohon, para Camat juga diminta aktif melakukan edukasi, pemantauan, serta gencar menyebarluaskan diseminasi peringatan dini bahaya cuaca ekstrem kepada masyarakat. Seluruh upaya pengurangan risiko bencana ini nantinya dilaporkan secara berkala kepada Bupati Tabanan dan ditembuskan ke BPBD Kabupaten Tabanan. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN