Airport Emergency Exercise di Bandara Ngurah Rai Bali menguji kesiapsiagaan menghadapi kebakaran, ancaman keamanan, hingga kecelakaan pesawat. (BP/istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Bayangkan gempa mengguncang kawasan bandara, kebakaran melanda gedung, ancaman bom muncul di terminal, hingga pesawat mengalami kecelakaan sesaat setelah mendarat. Situasi tersebut menjadi bagian dari simulasi skala penuh yang digelar Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung.

Bandara Ngurah Rai bersama berbagai instansi dan komunitas bandara melaksanakan Airport Emergency Exercise (AEE) untuk menguji kesiapan menghadapi kondisi darurat. Latihan ini mensimulasikan tiga skenario, yakni Building Fire Exercise, Airport Security Exercise, dan Aircraft Accident Exercise.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Nugroho Jati, mengatakan latihan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kesiapan personel, SOP, serta koordinasi lintas instansi.

“Sebagai pintu gerbang udara utama di Bali yang melayani hingga 24 juta penumpang dan lebih dari 140 ribu pergerakan pesawat setiap tahunnya, langkah mitigasi dan kesiapsiagaan seluruh instansi dalam menghadapi keadaan darurat menjadi sangat penting. Pelaksanaan Airport Emergency Exercise di hari ini menjadi komitmen kami untuk menjaga dan memastikan standar keselamatan, keamanan, dan pelayanan di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali senantiasa terjaga,” ujar Nugroho Jati pada Kamis (24/9).

Baca juga:  Disidak, Antrian Panjang Ditemukan di Loket Pembayaran VoA Bandara Ngurah Rai

Menurutnya, AEE juga menguji fungsi koordinasi, komunikasi, dan komando antarpersonel serta instansi komunitas bandara.

“Dalam Airport Emergency Exercise ini, fungsi koordinasi, komunikasi, dan komando antar unit dan instansi komunitas bandara diuji. Selain menguji kesiapsiagaan personel, latihan AEE juga menjadi upaya kami untuk menguji berbagai SOP dan dokumen, di antaranya adalah dokumen penanggulangan keadaan darurat bandara atau Airport Emergency Plan (AEP), dokumen program keamanan bandara atau Airport Security Programme (ASP), serta dokumen rencana mitigasi bencana di bandara atau Airport Disaster Management Plan (ADMP),” jelasnya.

Baca juga:  Bupati dan Wabup Jembrana Ajak Masyarakat Berhari Raya Patuhi Prokes

Pada skenario Building Fire Exercise, gempa bumi berkekuatan 5,9 SR disimulasikan terjadi di sekitar Selat Lombok. Kepanikan kemudian memicu kebakaran di Hotel Novotel yang berada di area bandara akibat korsleting di dapur. Personel Airport Rescue & Fire Fighting (ARFF) bergerak memadamkan api sekaligus mengevakuasi korban.

Sementara itu, Airport Security Exercise mensimulasikan ancaman bom di General Aviation Terminal (GAT). Petugas Airport Security menemukan ransel berisi rangkaian bom setelah melewati pemeriksaan X-ray. Skenario ini menguji kesiapan petugas, peralatan pemeriksaan, serta koordinasi Airport Security Committee, termasuk dengan Pecalang.

Latihan kemudian ditutup dengan Aircraft Accident Exercise. Dalam simulasi tersebut, pesawat Boeing 777-200ER nomor penerbangan AA239 yang membawa 350 penumpang dan awak mengalami kecelakaan setelah touchdown dan terbakar.

Personel ARFF langsung menuju lokasi setelah menerima informasi dari petugas ATC AirNav Indonesia. Sejumlah instansi turut terlibat, mulai dari Otoritas Bandara, AirNav Indonesia, KNKT, Imigrasi, Bea Cukai, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan, ground handling, maskapai, Kepolisian, TNI AU, rumah sakit hingga pemadam kebakaran.

Baca juga:  Gelar Rakor Kualitas Layanan Bandara Ngurah Rai, Gubernur Koster Pastikan Berbagai Perbaikan Dijalankan

Dalam simulasi, sebanyak 187 penumpang dinyatakan selamat, 143 luka-luka, dan 20 meninggal dunia. Dalam Airport Emergency Exercise skala penuh ini turut diikuti oleh berbagai instansi anggota komunitas bandara dan instansi eksternal lainnya, dengan tujuan untuk memperkuat jalur koordinasi dan komunikasi jika terjadi kondisi darurat yang sebenarnya. “Tentunya kami menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas keikutsertaan dalam AEE ini,” katanya.

Ditambahkan, pihak ya telah menyampaikan sosialisasi kepada pengguna jasa bandara dan masyarakat umum terkait pelaksanaan AEE ini, sehingga tidak berdampak terhadap pelayanan penumpang. “Kami turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh pengguna jasa bandara atas atensi dan kerja sama yang baik selama pelaksanaan AEE,” pungkasnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN