Krama Paibon Bedauh melaksanakan upacara Nyenuk serangkaian Upacara Ngenteg Linggih, Sabtu (12/9). (BP/Istimewa)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Rangkaian Puncak Karya Ngenteg Linggih, Mamungkah, Mapadudusan, Wrahaspati Kalpa Agung Panca Rupa Panca Kelud di Pamrajan Arya Kanuruhan atau Pangeran Tangkas Kori Agung Paibon Bedauh, Banjar Pidada, Desa Adat Karangsari, Nusa Penida, yang puncaknya telah dilaksanakan pada Rabu (9/9), berlanjut pada Sabtu (12/9).

Pada Sabtu (12/9), krama pengempon melaksanakan sejumlah rangkaian upacara, meliputi Makebat Daun, Nyenuk, Penyineban, Nuek Bagia Pula Kerti, Rsi Bhojana, dan Nunas Tirta Pengenduh. Seluruh rangkaian tersebut berlangsung khidmat sebagai bagian dari penuntasan karya yang telah dilaksanakan sejak 12 Agustus lalu.

Rangkaian upacara diawali dengan prosesi Mepeed yang diikuti seluruh krama istri pengempon Pura Paibon yang berjumlah 39 kepala keluarga (KK). Para krama istri berjalan beriringan dalam dua baris lurus sembari menjunjung gebogan berisi buah-buahan dan aneka jajan tradisional Bali yang dihiasi janur.

Baca juga:  Pura Kawitan Mahagotra Catur Sanak Pasek Kayuan Gelar Pujawali

Suasana prosesi tampak semarak namun tetap khidmat. Para krama istri mengenakan busana kebaya putih yang dipadukan dengan kamben dan selendang berwarna kuning. Prosesi Mepeed tersebut kembali dilaksanakan setelah sebelumnya digelar dalam rangkaian upacara Melasti pada Senin (7/9) lalu.

Ketua Panitia Karya, I Wayan Budi Mustika, mengatakan setiap tahapan upacara memiliki makna dan tujuan tersendiri. Salah satunya upacara Nyenuk yang merupakan simbol ucapan terima kasih dan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kelancaran pelaksanaan yadnya.

Selain itu, Nyenuk juga dimaknai sebagai simbol kedatangan para dewa untuk memberikan anugerah dan berkah kepada krama. Dalam pelaksanaannya, krama menghaturkan hasil bumi dan buah-buahan sebagai wujud rasa syukur.

Sementara itu, upacara Makebat Daun bermakna membuka atau memperluas tujuan dari upacara yang sedang dilaksanakan. Prosesi tersebut juga bertujuan menyampaikan undangan kepada dewata-dewati agar seluruh rangkaian upacara berjalan lancar dan mencapai tujuan yang diharapkan.

Baca juga:  Tangani Pandemi, Klungkung Tambah Anggaran Tak Terduga di 2022

Selanjutnya, upacara Nuek Bagia Pula Kerti merupakan salah satu prosesi dalam mengakhiri Karya Ngenteg Linggih. Prosesi tersebut dilakukan dengan menusuk atau nuek banten atau persembahan yang melambangkan akumulasi kebaikan. Hal itu sekaligus menjadi ungkapan syukur atas karya dan pencapaian yang telah terlaksana, serta harapan agar kebaikan tersebut terus tumbuh dan memberikan manfaat pada masa mendatang.

Sedangkan Rsi Bhojana menjadi wujud rasa syukur dan penghormatan kepada para sulinggih yang telah memberikan tuntunan serta bimbingan spiritual kepada krama selama pelaksanaan Karya Ngenteg Linggih.

Adapun Nunas Tirta Pengenduh merupakan prosesi memohon tirta atau air suci untuk keperluan ritual dan spiritual. Tirta tersebut digunakan untuk membersihkan dan menyucikan krama secara spiritual.

Baca juga:  Dari Kaki Maling Sesari Remuk Dihajar Warga hingga WN Italia Diamankan Satpol PP

Seluruh rangkaian karya kemudian ditutup dengan upacara Penyineban. Upacara ini menjadi momentum memohon maaf atas segala kekurangan selama pelaksanaan yadnya, sekaligus memohon berkah dan kesejahteraan bagi seluruh makhluk agar kehidupan berlangsung harmonis dan bahagia.

Penyineban juga dimaknai sebagai wujud rasa syukur karena seluruh rangkaian yadnya telah dapat diselesaikan. Di samping itu, krama memohon perlindungan serta keberkahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Setelah rangkaian Penyineban, krama Paibon Bedauh melanjutkan pelaksanaan upacara Nyegara-Gunung lan Majar-ajar di sejumlah Pura Sad Kahyangan pada Minggu (13/9). Rangkaian tersebut menjadi bagian lanjutan dari pelaksanaan yadnya setelah seluruh prosesi Karya Ngenteg Linggih rampung dilaksanakan. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN