
SINGARAJA, BALIPOST.com – Perayaan Tahun Baru Imlek di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Ling Gwan Kiong berlangsung khidmat sekaligus meriah, pada Selasa (17/2). Tetabuhan yadnya dari dua sekaa gong mengiringi rangkaian persembahyangan.
Humas TITD Ling Gwan Kiong Singaraja, Gunadi Yetial, menjelaskan keterlibatan sekaa gong dalam setiap perayaan Imlek sudah menjadi tradisi turun-temurun. Setiap tahun, pihaknya mengundang Sekaa Gong Taman Sari dan Sekaa Gong Desa Sinabun untuk mengiringi prosesi upacara, mulai sehari sebelum Imlek, malam penyambutan, hingga sembahyang Tahun Baru yang berlangsung sampai siang hari.
Sebanyak 20 anggota sekaa gong terlibat dalam tabuh yadnya pengiring upacara. Iringan gamelan tidak hanya memperkuat kekhidmatan ritual, tetapi juga menghadirkan nuansa meriah yang menjadi ciri khas perayaan Tahun Baru. “Sekaa Gong Taman Sari memang tiap tahun kami undang sebagai bentuk akulturasi budaya dan menjaga hubungan baik dengan umat Hindu. Di Pura Taman Sari juga terdapat pelinggih bernuansa Tionghoa, sehingga ada keterkaitan sejarah dan spiritual,” ujarnya.
Gunadi menjelaskan, akulturasi budaya yang terjalin di Singaraja ini juga berakar dari sejarah panjang hubungan masyarakat Tionghoa dan Bali.
Berdasarkan cerita yang berkembang di Pura Taman Sari, dahulu kapal pedagang Tiongkok pernah hampir karam di perairan Buleleng akibat gelombang besar. Sang saudagar memohon keselamatan kepada Dewa Laut dan berjanji akan memberi sumbangsih bagi masyarakat setempat jika selamat.
“Setelah kapal berhasil berlabuh dengan aman, saudagar tersebut menepati janjinya dengan bekerja sama bersama masyarakat lokal membangun Pura Taman Sari, lengkap dengan pelinggih Dewa Cina di dalamnya,” jelas Gunadi.
Tak hanya tetabuhan, perayaan juga pernah dimeriahkan pertunjukan wayang potehi yang didatangkan dari Surabaya. Wayang potehi merupakan seni pertunjukan tradisional Tiongkok yang mengangkat kisah sejarah Tiongkok kuno, diselingi humor yang menghibur penonton.
Dalam rangkaian Imlek tahun ini, umat juga melakukan tradisi ciamsi atau ramalan peruntungan. Tahun ini berada dalam shio Kuda Api yang melambangkan semangat menggebu-gebu, penuh energi, namun juga memiliki karakter keras layaknya api. Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Gunadi berharap masyarakat tetap optimistis.
“Keberuntungan akan berpihak pada mereka yang siap dan bersemangat untuk terus maju. Mudah-mudahan di tengah kondisi ekonomi yang lesu, tahun ini bisa lebih bangkit,” harapnya.
Sementara itu, Koordinator Sekaa Gong Taman Sari, Gede Budi Astawa, menuturkan bahwa tradisi gong saat Imlek sudah ada sejak dirinya kecil. Orang-orang tua dahulu selalu menekankan bahwa perayaan tahun baru harus diwarnai bunyi-bunyian dan, bila memungkinkan, tari-tarian.
“Kalau tidak ada budaya Tionghoa, bisa diisi budaya lokal. Dari dulu memang sudah ada gong. Awalnya satu kelompok, lalu berkembang menjadi dua kelompok. Sehari sebelum Imlek sudah mulai menabuh,” jelasnya. (Yudha/balipost)










