Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, Gubernur Bali Wayan Koster, dan lainnya saat puncak peringatan Hari Mangrove Sedunia di Denpasar, Minggu (26/7). Sekitar 15000 bibit mangrove ditanam di kawasan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Denpasar sebagai upaya dalam menjaga kelestarian mangrove dan mengamankan generasi mendatang. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Indonesia memiliki kawasan mangrove terluas di dunia yang mencapai 3,45 juta hektare atau sekitar 23 persen dari total ekosistem mangrove dunia. Namun, sekitar 40 persen dari luasan tersebut saat ini berada dalam kondisi jarang sehingga memerlukan rehabilitasi untuk memulihkan fungsi ekologisnya.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki pada di sela-sela peringatan Hari Mangrove Sedunia yang dipusatkan di Denpasar, Minggu (26/7).

Rohmat mengatakan, Kementerian Kehutanan berkomitmen terus meningkatkan rehabilitasi mangrove, terutama pada kawasan hutan yang menjadi kewenangannya. “Dari total mangrove yang ada, terdapat sekitar 2,73 juta hektare yang berada di dalam kawasan hutan dan menjadi tanggung jawab Kementerian Kehutanan. Upaya rehabilitasi akan terus kami tingkatkan,” ujarnya.

Baca juga:  Lupa Matikan Kompor, Rumah Terbakar

Menurutnya, rehabilitasi mangrove tidak hanya berorientasi pada pemulihan lingkungan, tetapi juga melibatkan masyarakat sebagai bagian dari pengelolaan berkelanjutan. Pelibatan masyarakat dilakukan melalui pengembangan Kebun Bibit Rakyat (KBR) mangrove, keterlibatan dalam kegiatan penanaman, hingga pengembangan sistem silvofishery atau wanamina. Skema tersebut dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui peningkatan produksi perikanan dan kelautan, seperti udang, kepiting, dan komoditas lainnya.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, pemerintah saat ini tengah menyiapkan program restorasi mangrove yang masih dalam tahap perencanaan dan sosialisasi kepada masyarakat. Menurutnya, pelaksanaan tahap awal akan diprioritaskan pada kawasan hutan negara karena secara administratif lebih mudah dikelola meskipun tetap menghadapi berbagai tantangan di lapangan. “Yang kita utamakan pertama adalah lahan hutan dulu karena merupakan lahan negara, sehingga relatif lebih mudah untuk dikerjakan,” katanya.

Baca juga:  Waspadai Penjualan Hasil TAT

Trenggono menjelaskan, salah satu penyebab utama berkurangnya kualitas mangrove selama beberapa dekade terakhir adalah degradasi akibat abrasi serta perubahan kondisi lingkungan pesisir. Persoalan tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pada tahap pertama, pemerintah menargetkan restorasi mangrove seluas sekitar 14 ribu hektare dari total kawasan yang direncanakan mencapai 78.550 hektare. Program awal tersebut difokuskan di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Baca juga:  Indonesia Rugi Ratusan Triliun Akibat Perubahan Iklim

Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat upaya perlindungan dan pemulihan hutan mangrove melalui sinergi lintas kementerian. Menurut Trenggono, restorasi menjadi langkah utama untuk menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove di Indonesia. (Widiastuti/balipost)

 

BAGIKAN