
GIANYAR, BALIPOST.com – Masalah anjing telantar yang kerap dianggap sebagai gangguan estetika dan kebersihan di lingkungan masyarakat, kini mendapatkan solusi konkret di Kabupaten Gianyar. Dewata Shelter hadir sebagai pusat rehabilitasi hewan telantar dengan konsep ramah lingkungan dan kolaboratif, bertempat di Desa Sukawati.
Kepala UPTD Puskeswan III Kabupaten Gianyar (Wilayah Kerja Kecamatan Gianyar, Blahbatuh & Sukawati), drh. I Nyoman Arya Dharma seizin Kadis Pertanian Ir. Anak Agung Putri Ari, Minggu (3/5) mengatakan, berbeda dengan tempat penampungan pada umumnya, Dewata Shelter mengusung konsep bangunan dari bahan alami bambu yang menyatu dengan alam. Shelter ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat perlindungan, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan praktik lapangan bagi mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Udayana.
Melalui kerja sama dengan Universitas Udayana, para calon dokter hewan diberikan ruang untuk mempraktikkan ilmu medis mereka secara langsung di lapangan. Hal ini memastikan setiap hewan yang diselamatkan mendapatkan perawatan medis yang terstandar, mulai dari pengobatan, vaksinasi, hingga sterilisasi untuk mengontrol populasi. Kehadiran shelter ini di Desa Sukawati disambut hangat oleh otoritas setempat.
Perbekel Desa Sukawati, Dewa Gede Dwi Putra, bersama Bendesa Adat Desa Sukawati, Ir. I Made Sarwa, MBA, menyatakan apresiasi dan rasa bangganya atas inisiatif ini.
Menurut pihak desa, keberadaan Dewata Shelter sangat relevan dengan pengembangan Sukawati sebagai desa wisata. Mengingat Sukawati memiliki potensi besar seperti Pura Desa yang merupakan situs purbakala bersejarah, faktor kebersihan dan ketertiban lingkungan menjadi prioritas utama. “Dengan tertanganinya anjing telantar, kawasan wisata dan area suci diharapkan menjadi lebih nyaman bagi wisatawan maupun krama desa,” ucap Dewa Gede Dwi Putra.
Pengelola Dewata Shelter, Kak Huang, menegaskan bahwa fokus utama shelter ini adalah mengubah cara pandang masyarakat dalam memperlakukan hewan. “Kami melihat satu hal yang perlu diluruskan, memberi makan tanpa pengelolaan bukan solusi, justru bisa menimbulkan masalah baru seperti populasi yang tidak terkendali. Di Dewata Shelter, kami menjalankan pendekatan terstruktur melalui sterilisasi dan edukasi,” ujar Kak Huang.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. “Kami sangat membutuhkan sinergi antara masyarakat, desa adat, dan pemerintah. Harapan kami, Bali ke depan tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena kepeduliannya yang cerdas dan beradab terhadap hewan,” imbuhnya. (Wirnaya/balipost)










