Proses penataan kawasan Jalan Gajah Mada Tabanan, Senin (13/7). (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Revitalisasi Patung Catur Muka yang menjadi salah satu ikon Kota Singasana mulai bergulir. Langkah ini dilakukan seiring penataan kawasan Jalan Gajah Mada yang tengah dikerjakan Pemerintah Kabupaten Tabanan, sehingga wajah pusat kota diharapkan tampil lebih representatif tanpa menghilangkan nilai filosofis dan pakem patung yang telah melekat selama puluhan tahun.

Tahap awal revitalisasi ditandai pembongkaran patung menggunakan alat berat, pada Minggu (12/7). Sedangkan sampai saat ini pengerjaan penataan masih terus berlanjut. Dimana sejumlah pekerja tampak membersihkan puing-puing material, dan alat berat masih bersiaga di lokasi.

Terkait revitalisasi patung catur muka, Bendesa Adat Kota Tabanan, I Made Suwardika, mengatakan gagasan revitalisasi memang usulan dari desa adat kota Tabanan kepada Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya. Usulan tersebut muncul karena penataan Jalan Gajah Mada dinilai perlu diimbangi dengan pembaruan ikon kawasan agar tampil lebih proporsional.

Baca juga:  Hilang Empat Pekan, Nenek Membusuk di Dasar Jurang

Menurut Suwardika, revitalisasi tidak akan mengubah bentuk maupun pakem Patung Dewa Brahma yang selama ini menjadi identitas Catur Muka. Perubahan hanya dilakukan pada dimensi sehingga patung tampak lebih besar dan sesuai dengan perkembangan kawasan perkotaan. “Patung tetap mengacu pada pakem yang ada. Hanya ukurannya diperbesar agar lebih proporsional dengan kondisi lingkungan saat ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Patung Catur Muka dibangun sejak era 1980-an dan selama ini hanya mengalami pembaruan berupa pengecatan maupun pemasangan prada. Belum pernah dilakukan perubahan ukuran, padahal kondisi kawasan Jalan Gajah Mada telah berubah signifikan.

“Jika dulu bangunan pertokoan di sekitarnya masih relatif rendah sehingga patung tampak dominan, kini banyak bangunan bertingkat yang membuat keberadaan ikon tersebut terlihat kurang menonjol,” jelasnya.

Baca juga:  Bupati Gus Par Tinjau Perbaikan Jalan Desa Duda Utara

Karena itu, revitalisasi dinilai menjadi bagian dari penataan kawasan agar Patung Catur Muka kembali menjadi titik perhatian sekaligus memperkuat estetika pusat Kota Tabanan. Patung akan dibuat lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan sebelumnya sehingga lebih serasi dengan bangunan di sekitarnya.

“Ukuran patung tentu akan disesuaikan dengan kondisi teknis di lapangan, kalau dari rencana yang disiapkan menjadi sekitar tiga meter untuk lebar dan enam meter untuk tinggi,”ucapnya .

Suwardika mengakui rencana revitalisasi memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Namun, menurutnya, perubahan tersebut perlu dipahami sebagai upaya menyesuaikan ikon Kota Tabanan dengan perkembangan kawasan tanpa menghilangkan nilai, filosofi, maupun pakem yang telah diwariskan sejak awal pembangunannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tabanan, I Gede Made Partana, mengatakan revitalisasi Patung Catur Muka merupakan bagian dari penataan kawasan Jalan Gajah Mada yang dilaksanakan secara terpadu. Berdasarkan nilai kontrak, pekerjaan penataan Jalan Gajah Mada mencapai Rp29.874.913.000, sedangkan pekerjaan pavingisasi dan pembangunan Patung Catur Muka memiliki nilai kontrak Rp4.894.632.000. Dimana untuk patung catur muka dibuat oleh pematung asal Tabanan.

Baca juga:  Otoritas Kota Shanghai Tunda Ujian Nasional

Partana menjelaskan, khusus penataan ruas Jalan Gajah Mada, pekerjaan pavingisasi dilaksanakan mulai dari pertigaan Kantor PLN Tabanan hingga sebelah barat Toko Cakra. Penataan tersebut meliputi pemasangan paving pada kawasan pedestrian beserta penataan elemen pendukung lainnya untuk meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan estetika koridor utama Kota Singasana.

Menurutnya, proyek tersebut merupakan satu kesatuan dalam upaya mempercantik wajah Kota Tabanan sekaligus memperkuat fungsi Jalan Gajah Mada sebagai pusat aktivitas ekonomi, sosial, dan ruang publik yang lebih tertata. (Dewi Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN