
DENPASAR, BALIPOST.com – Provinsi Bali mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) Juni 2026 tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Rabu (1/7) mengatakan, inflasi tahunan tersebut masih mendekati sasaran inflasi yang ditetapkan pemerintah. Inflasi YoY pada 2026 sebesar 3,27 persen.
“Kalau kita lihat tiga tahun terakhir, inflasi year on year bulan Juni tahun 2026 merupakan yang tertinggi dibandingkan Juni 2024 maupun Juni 2025,” katanya.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan inflasi 4,03 persen dan andil 1,28 persen terhadap inflasi tahunan.
Kelompok transportasi berada di posisi kedua dengan inflasi 5,87 persen dan sumbangan 0,63 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil 0,33 persen.
Secara komoditas, penyumbang terbesar inflasi tahunan adalah bensin yang mengalami inflasi 6,12 persen dengan sumbangan 0,32 persen. Berikutnya bawang merah mengalami inflasi 26,85 persen dengan andil 0,18 persen, cabai rawit naik 40,60 persen dengan andil 0,17 persen, beras naik 3,15 persen dengan sumbangan 0,15 persen, emas perhiasan naik 41,83 persen dengan andil 0,15 persen, serta minyak goreng mengalami inflasi 7,13 persen dengan sumbangan 0,11 persen.
Dari sisi wilayah, kata Agus, seluruh daerah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami inflasi.
“Inflasi tahunan tertinggi tercatat di Kota Denpasar sebesar 3,46 persen, sedangkan terendah di Kabupaten Badung sebesar 2,80 persen. Sementara secara bulanan, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Tabanan sebesar 0,92 persen,” paparnya.
Agus menegaskan kelompok makanan, minuman dan tembakau serta kelompok transportasi masih menjadi dua kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi Bali pada Juni 2026. (Suardika/balipost)









