Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat Provinsi Bali mengalami deflasi atau penurunan harga secara umum sebesar 0,51 persen secara month-to-month (mtm) pada Juli 2026. Deflasi tersebut terutama dipengaruhi turunnya harga komoditas hortikultura, khususnya cabai dan bawang merah.

Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan menjelaskan, berdasarkan catatan peristiwa yang terjadi, melimpahnya pasokan hasil panen menyebabkan harga cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah turun di seluruh wilayah Bali sepanjang Juli 2026.

Baca juga:  Keluhan Penegakan Hukum Terus Berulang, Beking Koruptor hingga Kejahatan Tambang Disoroti

“Komoditas hortikultura mengalami penurunan harga dan berpengaruh terhadap pergerakan harga secara umum,” ujarnya di Denpasar, Senin (3/8).

Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi dengan penurunan indeks sebesar 2,34 persen dan memberikan andil minus 0,75 persen terhadap inflasi umum. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi sebesar 0,66 persen dengan andil minus 0,06 persen.

Baca juga:  Belasan Desa di Denpasar Siap Bentuk Koperasi Merah Putih

Secara komoditas, cabai rawit menjadi penyumbang utama deflasi dengan penurunan harga 31,08 persen dan andil minus 0,18 persen terhadap total inflasi. Disusul bawang merah yang turun 19,67 persen dengan andil minus 0,16 persen serta cabai merah yang turun 29,38 persen dan menyumbang minus 0,08 persen terhadap inflasi umum.

Meski demikian, sejumlah kelompok pengeluaran masih mengalami kenaikan harga. Kelompok pendidikan mencatat inflasi 1,19 persen akibat dimulainya tahun ajaran baru, sementara kelompok transportasi mengalami inflasi 1,30 persen.

Baca juga:  Jasad Bayi Ditemukan di Betngandang, Sejumlah Saksi Diperiksa 

Secara spasial, seluruh kota yang menjadi cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami deflasi pada Juli 2026. Deflasi terdalam terjadi di Singaraja sebesar 0,91 persen. (Suardika/balipost)

BAGIKAN