
GIANYAR, BALIPOST.com – Semangat kreativitas pemuda ST. Rama Sita terus bergejolak setelah berhasil meraih juara 1 lomba ogoh-ogoh tingkat Kecamatan Tampaksiring yang kini ditampilkan di perayaan HUT Kota Gianyar ke-255 di Alun-Alun Kota Gianyar. Salah satu karya yang mencuri perhatian datang dari ST Rama Sita, Banjar Adat Sanding Bitra, Desa Sanding, Tampaksiring.
Di bawah komando Pande Putu Sugiantara Putra, atau yang akrab disapa Sugik, para pemuda setempat berhasil menciptakan ogoh-ogoh unik yang menonjolkan kerumitan konstruksi serta estetika ukiran tradisional. Fokus utama pengerjaan tahun ini terletak pada detail konstruksi dan ukiran pada bagian beti (tatakan ogoh-ogoh). Sugik menjelaskan bahwa tingkat kesulitan tahun ini jauh lebih menantang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya untuk menghindari kesan kaku.
“Yang membuat beda kali ini adalah konstruksinya. Jika biasanya terlihat agak kaku (nyengku), kali ini kami buat lebih dinamis dan ‘ngatut-ngatut’. Selain itu, kami memberikan sentuhan ukiran baru pada bagian beti, yang merupakan pengalaman pertama bagi pemuda di banjar kami,” ujar Sugik.
Proses pengerjaan dilakukan secara simultan oleh tim inti beranggotakan empat orang. Meski terkendala keterbatasan mesin, semangat gotong royong membuat karya ini rampung dalam waktu satu bulan. Seluruh proses, mulai dari pengelasan rangka hingga penyelesaian ukiran, dilakukan bersamaan agar efisien.
Tahun ini, ST Rama Sita mengusung tema “Dadap Wong”. Karya ini berangkat dari mitologi pohon dadap yang memiliki kekuatan spiritual dan magis di Bali. Secara visual, ogoh-ogoh ini menggambarkan sosok raksasa tinggi besar berambut akar pohon bangsing dengan wajah menyeramkan namun berhias ukiran dan permata simbol dari kesucian sekaligus kemistisan kayu dadap.
Cerita ini mengisahkan seorang seniman yang menebang pohon dadap secara sembarangan untuk membuat tapel Rangda tanpa memohon izin (permisi). Akibatnya, kekuatan magis merasuki sang seniman hingga menyebabkan kekacauan.”Dadap Wong hadir sebagai implementasi dari serakahnya manusia saat ini. Banyak bencana alam seperti banjir dan tanah longsor di Bali diakibatkan oleh alih fungsi lahan menjadi villa atau hotel tanpa memikirkan keseimbangan alam,” jelas Sugik mengenai pesan moral karyanya.
Untuk mewujudkan karya seni ini, ST Rama Sita menghabiskan biaya sekitar Rp16.000.000. Dana tersebut bersumber dari kas organisasi, sumbangan sukarela pemuda, serta donasi dari berbagai pihak yang peduli terhadap pelestarian seni. Melalui pengerjaan ogoh-ogoh ini, Sugik berharap ikatan persaudaraan antar-pemuda di Banjar Sanding Bitra semakin kuat. Lebih dari sekadar perlombaan, karya ini menjadi pengingat akan piteket (pesan) leluhur: “Ten wenten alas, ten wenten urip” (Tidak ada hutan, tidak ada kehidupan). (Wirnaya/balipost)










