Kegiatan pemilahan sampah kembali di TPS3R Sadu Kencana Desa Dauh Peken, Tabanan.(BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Kebijakan TPA Mandung hanya akan menerima sampah residu saja, mulai 1 Mei 2026 disambut positif oleh relawan pengelolaan sampah berbasis sumber. Salah satunya TPS3R Sadu Kencana di Desa Dauh Peken yang sejak 2023 telah lebih dulu mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah dari rumah.

Pendamping sekaligus Humas TPS3R Sadu Kencana, Gracia Andriana, mengatakan kebijakan tersebut sejalan dengan upaya yang selama ini dilakukan pihaknya.

“Kami sudah lama mendorong pemilahan dari sumber. Jadi ketika TPA hanya menerima residu, ini sebenarnya memperkuat apa yang sudah kami jalankan,” ujarnya, Senin (13/4).

Lanjut dikatakannya, sejak awal perubahan pada Maret 2023, TPS3R Sadu Kencana mulai membuka layanan pengangkutan sampah terpilah dengan iuran Rp 1.000 per hari atau Rp 30 ribu per bulan. Fokus utama diarahkan pada edukasi pemilahan, bahkan setiap pelanggan disiapkan kantong terpilah untuk memudahkan pemisahan organik dan anorganik.

Baca juga:  Empat Paket Proyek Gagal Tender di Tahun 2017

Hasilnya, kini tercatat 539 pelanggan aktif telah dilayani. Namun kapasitas layanan TPS3R masih terbatas, hanya mampu menjangkau sekitar 600 kepala keluarga (KK), sementara total KK di Dauh Peken mencapai sekitar 4.000. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat masih dilayani oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan pihak swasta yang belum sepenuhnya menerapkan sistem pemilahan.

“Ini tantangan di lapangan. Kami sudah edukasi pelanggan untuk memilah, tapi di sisi lain masih ada layanan lain yang mengangkut sampah tercampur. Ini yang membuat masyarakat kadang bingung,” jelasnya.

Dalam operasionalnya, TPS3R Sadu Kencana didukung enam tenaga. Pengangkutan sampah dilakukan setiap hari dengan rata-rata 900 kilogram sampah anorganik yang sudah dipilah dan siap didaur ulang. Bahkan dalam sehari, dua bak pick-up bisa terisi, yang kemudian kembali dipilah lebih detail di TPS.

Baca juga:  Penanganan Sampah di Denpasar Masih Temui Jalan Buntu

“Sampah anorganik itu kami pilah lagi lebih detail dan kami cuci sebelum nantinya diserahkan ke pihak ketiga, itu tentu sesuai dengan MOU agar bisa kembali terserap pasar, tentunya kami akan terus edukasi masyarakat tentang bagaimana pemilahan yang benar,”jelasnya.

Sementara untuk sampah organik, proses pengolahan selama ini masih menjadi tantangan. Secara manual, siklus pengolahan untuk nantinya bisa jadi pupuk membutuhkan waktu hingga 42 hari. Saat ini pihak TPS3R tengah mencari metode untuk mempercepat proses tersebut sekaligus mengurangi bau, termasuk memohonkan pemanfaatan lahan milik pemerintah daerah kabupaten untuk bisa digunakan sebagai tempat komposter. “Untuk produksi pupuk organik kami juga sudah dibantu mesin pencacah untuk mempercepat proses,” imbuh Gracia.

Dari sisi pendanaan, operasional TPS3R banyak ditopang dana CSR, termasuk dari rumah sakit yang didampingi, seperti RS Dharma Kerti dan RS Wisma Prashanti. Selain itu, kerja sama dengan pihak ketiga juga dilakukan melalui MoU agar sampah anorganik yang sudah dipilah tidak menumpuk dan tetap terserap pasar, sehingga bank sampah tidak macet.

Baca juga:  Peringati Hari Lalu Lintas, Wakapolda Serahkan Kursi Roda

Dukungan juga datang dari berbagai pihak, termasuk relawan internasional dari Inggris, Kanada hingga London yang turut membantu edukasi dan aksi bersih-bersih, seperti di kawasan Yeh Gangga. Kolaborasi ini dinilai memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Meski demikian, sejumlah kendala masih dihadapi. Selain keterbatasan kapasitas dan SDM, perbedaan persepsi terkait kategori residu antara pengelola di lapangan dengan kebijakan DLH juga menjadi catatan. “intinya kami menyambut baik komitmen DLH yang nantinya hanya mengambil residu. Tapi perlu penyamaan persepsi di lapangan agar tidak terjadi kebingungan,” tegasnya.

Ke depan, TPS3R Sadu Kencana berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat, dukungan pemerintah lebih konkret, serta kapasitas layanan bisa diperluas.(Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN