Foto-foto yang merekam dinamika perkembangan Batur dari masa ke masa dipamerkan saat Karya Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani. (BP/istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Karya Pujawali Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani, tahun ini istimewa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Karya tahun ini sekaligus menjadi momentum refleksi bersejarah memperingati 100 tahun peristiwa Rarud Batur, yakni peristiwa di mana Desa Batur direlokasi dari tempat semula di kaki Gunung Batur sebelah barat daya ke tempat saat ini.

“Pada Ngusaba Kadasa tahun 2026, kami turut memperkuat narasi tentang Rarud Batur sebagai bentuk perenungan dan mengenang peristiwa seabad silam. Hal ini dicerminkan melalui berbagai piranti upacara dan dekorasi di kawasan pura,” kata Jero Penyarikan Duuran Batur.

Di batas kesucian Desa Adat Batur, baik di selatan maupun utara dibuat figur baris Batur yang terdiri atas Baris Jojor, Baris Gede, Baris Bajra, Baris Perisi, dan Baris Dadap. Baris-baris ini adalah simbol dari spirit perjuangan masyarakat Batur, termasuk bagian salah satu tari yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia.

Baca juga:  Hari Ini, Puncak Palebon Jero Gede Hulun Danu Batur di Songan

“Sarana pendukung lainnya seperti dekorasi direkonstruksi dari visual-visual masa lalu. Sementara itu, persembahan berupa pala bungkah-pala gantung juga dibentuk secara tematik, yakni mewujudkan figur Dewa Wisnu dan Dewi Sri, serta Garuda Wisnu Kencana. Figur ini adalah perwujudan dari bakti masyarakat subak dan pasihan kepada Ida Bhatari Sakti Batur atas limpahan anugerah tiada putus melalui aliran air dan kemakmuran tanah,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga menyediakan ruang-ruang pameran visual yang merekam seratus tahun perjalanan Rarud Batur. “Pada foto-foto yang kami pamerkan di jaba sisi, jabaan, dan jaba tengah merekam bagaimana dinamika perkembangan Batur dari masa ke masa, terutama dalam seratus tahun terakhir. Visual-visual ini kami tampilkan sebagai media edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda agar literer dengan dinamika kebudayaan Batur,” jelasnya.

Baca juga:  Bali Post Raih Penghargaan Media Lokal Terbaik

Di jaba tengah juga terdapat sebuah videotron yang menyajikan narasi-narasi kebudayaan Batur, khususnya informasi tentang Pura Pangideran Ida Bhatari Batur, dokumentasi aktivitas kebudayaan, dan lain-lain. “Semuanya kami sajikan sebagai ruang untuk memperkuat narasi tentang Batur yang kami pentingkan untuk pewarisan kebudayaan di kemudian hari,” ujarnya.

Ketua Panitia Rarud Batur yang juga Jero Balirama (Jero Kraman) Desa Adat Batur, Guru Nengah Santika menambahkan, peringatan Rarud Batur akan dilaksanakan pada Agustus 2026. Momen ini menyesuaikan dengan catatan yang dapat dikumpulkan oleh panitia.

Baca juga:  Kapasitas Incinerator di Badung Belum Sebanding dengan Volume Sampah

“Menurut sejumlah catatan, letusan dahsyat Gunung Batur yang melahap seluruh pusat permukiman Desa Batur kuno terjadi pada 3 Agustus 1926. Pengungsian dilakukan sejak tanggal 4 Agustus 1926, di mana pratima dan pralingga akhirnya disetanakan di Desa Bayunggede selama dua tahun,” kata dia.

Selanjutnya, pada tahun 1928, Desa Batur secara resmi diberikan tempat bermukim yang baru di tempat saat ini. Sejak saat itu pembangunan fasilitas permukiman seperti Pura Ulun Danu Batur dan lain-lain dibangun. “Menurut catatan Rajapurana Baturu pada bulan April tahun 1935 Pura Ulun Danu Batur di tempat yang baru akhirnya di-plaspas. Itulah yang menjadi tanda kehidupan baru kami di tempat yang baru, seratus tahun yang lalu,” tandasnya. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN