Parade Baleganjur Bebarongan antar kecamatan se-Kabupaten Gianyar bertempat di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis (9/4) malam. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Kemeriahan Pekan Budaya Gianyar semakin terasa dengan digelarnya parade Baleganjur Bebarongan antar kecamatan se-Kabupaten Gianyar. Pada Kamis (9/4) malam, ajang ini menjadi panggung unjuk gigi bagi kekayaan seni tradisional Bali yang sarat akan makna spiritual.

Dalam parade tersebut, tujuh kecamatan di Kabupaten Gianyar menampilkan kreativitas terbaik mereka. Masing-masing kontingen mengemas seni baleganjur bebarongan dengan menonjolkan ciri khas serta kearifan lokal wilayahnya.

Penampilan dibuka Sekaa Gong Satya Jnana (Kecamatan Gianyar) dengan garapan bertajuk “Nyapuh”. Suasana semakin hangat saat Yowana Kembang Swara Banjar Juga bersama Komunitas Seni Pitha Mahaswara (Kecamatan Ubud) membawakan garapan “Gerinsing”. Tak kalah memukau, Pengayah Gong Sekaa Teruna Dharma Adnyana (Kecamatan Tegallalang) hadir dengan “Bwah Rong”, disusul oleh Sanggar Seni Gita Lestari (Kecamatan Blahbatuh) yang menyajikan “Swara Raksa”.

Baca juga:  Rencana Pusat Kebudayaan Bali, Potensi Ini Wajib Diantisipasi

Memasuki sesi akhir, Pesraman Satya Kumara Shanti (Kecamatan Payangan) menghadirkan narasi spiritual melalui “Ruwat Mala”, dilanjutkan oleh Sekeha Gong Sila Pertipa (Kecamatan Sukawati) dengan garapan “Sida Arsa”. Parade ditutup dengan apik oleh Sekeha Balaganjur Gandara Shanti (Kecamatan Tampaksiring) melalui karya berjudul “Lawat Liwat”.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, Jumat (10/4) menyatakan kegiatan ini merupakan komitmen nyata pemerintah daerah dalam menjaga napas budaya di desa adat. Ia menekankan pentingnya menjaga estetika baleganjur bebarongan agar tetap ajeg sebagai identitas masyarakat Gianyar. “Kita ingin lebih menunjukkan cita karya kearifan lokal masing-masing, sehingga esensinya tetap terjaga, tradisinya tetap, dan spiritnya tetap,” ujar Adi Parbawa.

Baca juga:  Fadli Zon Sebut Budaya adalah 'Super Power' Indonesia

Senada dengan hal tersebut, tokoh seniman Dr. I Wayan Sudirana, S.Sn., M.A., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi atas ruang kreativitas yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar. Menurutnya, parade ini merupakan langkah strategis untuk mematangkan persiapan seniman menuju ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). “Saya ingin kegiatan ini tidak hanya tahun ini, melainkan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” harap Sudirana.

Baleganjur bebarongan sendiri memiliki akar yang kuat dalam kehidupan beragama di Bali, terutama berkaitan dengan tradisi Ngunya atau Ngiring Ida Bhatara. Prosesi mengarak Sesuhunan berupa Barong dan Rangda ini bukan sekadar tontonan, melainkan bagian integral dari ritual penyucian dan pelestarian nilai budaya yang turun-temurun di Kabupaten Gianyar. (Wirnaya/balipost)

Baca juga:  Ongkos Jahit Bantuan Seragam Sekolah Sempat Terkendala Pembukaan Rekening Simpel
BAGIKAN