Pembinaan Janger Pegok yang akan tampil di PKB ke-48 yang berlangsung pada Minggu (24/5). (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tarian Janger Pegok akan ditampilkan di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 tahun 2026. Warian budaya turun temurun warga Pegok, Denpasar Selatan ini, pernah mendunia. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya video pementasan Janger Pegok produksi tahun 1937 yang tersimpan di Jerman.

Temuan ini sekaligus menjadi bukti penting perjalanan kesenian rakyat Bali yang telah dikenal dunia sejak era kolonial. Arsip video tersebut ditemukan pada tahun 2009 oleh seniman dan budayawan Pegok, I Made Wardana, melalui koleksi milik lembaga media sains IWF Göttingen, Jerman.

Rekaman berdurasi sekitar 10 menit itu mendokumentasikan pertunjukan Janger dan Calonarang yang digelar di Pura Sari Pegok, Sesetan, sekitar tahun 1936 saat Bali tengah dilanda wabah malaria. Kini, warisan seni itu akan kembali dihidupkan dalam ajang PKB ke-48, sebagai duta Denpasar melalui pertunjukan bertajuk “Kejit Enyor”.

Penata artistik Janger Pegok, sekaligus penulis konsep pertunjukan, I Made Agus Wardana saat pembinaan Tari Janger Pegok oleh Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Minggu (24/5) malam mengatakan, pertunjukan tahun ini menghadirkan perpaduan antara rekonstruksi gending klasik, adaptasi kekinian, hingga inovasi artistik tanpa meninggalkan akar tradisi khas Pegok.

Baca juga:  Cagar Budaya Nasional Prasasti Blanjong

“Janger Pegok adalah anugerah leluhur. Tugas generasi sekarang bukan sekadar mempertontonkan, tetapi merawat ruh dan identitasnya agar tetap hidup lintas zaman,” tegasnya.

Ia menambahkan seluruh penari dan penabuh adalah putra putri Banjar Pegok. “Di Banjar Pegok hampir setiap piodalan memang menyajikan tari janger dan  Para penari dan penabuh ini memang asli nak Pegok, ” tegas pria yang akrab disapa Made Ciaatt ini.

Sebanyak 10 gending akan ditampilkan dalam pementasan tersebut, mulai dari karya klasik hingga hasil rekonstruksi baru. Iringan gamelan Smarandana dipadukan dengan Gong Suling tetap mempertahankan logat khas “nak Pegok” sebagai identitas musikal yang diwariskan turun-temurun.

Baca juga:  Jelang Galungan Stok Babi Aman, Harga Diperkirakan Alami Kenaikan

Demikian dikatakannya, temuan video Janger Pegok 1937 di Jerman tersebut menjadi penanda bahwa Janger Pegok memiliki nilai sejarah dan identitas budaya yang sangat kuat. Made Ciaatt mengatakan, Janger Pegok lahir dari semangat kebersamaan para pemuda Banjar Pegok pada awal abad ke-20. Berawal dari tradisi berkumpul sambil melantunkan gending pujaan dan romantisme rakyat, kesenian itu berkembang menjadi pertunjukan rakyat yang digemari masyarakat Bali Selatan.

Berbeda dengan seni pertunjukan kerajaan seperti Gambuh yang identik dengan lingkungan puri, Janger hadir sebagai seni rakyat yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat biasa. Kehadiran penari perempuan dalam pertunjukan Janger kala itu juga menjadi pembaruan besar dalam dunia seni pertunjukan Bali.

Dalam arsip video tersebut dijelaskan, pertunjukan Calonarang dilaksanakan sebagai bagian ritual penolak bala akibat wabah penyakit. Karena keterbatasan penari sisya yang memenuhi syarat, para penari Janger yang saat itu tengah berlatih akhirnya turut dilibatkan dalam pementasan sakral tersebut.

Baca juga:  Delapan Kandidat Pimpinan Pusat Kebudayaan Bali Lolos UKK, Ini Peraih 3 Besar

Warga Pegok kala itu bahkan bergotong royong mengumpulkan dana untuk membuat kostum pertunjukan. Semangat kolektif itulah yang membuat Janger Pegok mampu bertahan dan berkembang hingga kini.

Pertunjukan diawali dengan pementasan Janger selama sekitar satu jam menggunakan iringan dua kendang krumpungan, suling, tawa-tawa, dan rebana. Sebanyak 12 penari perempuan dan 12 penari laki-laki tampil dalam formasi persegi panjang khas Janger Pegok.

Suasana berubah semakin sakral ketika drama Calonarang dimulai dan tokoh Rangda hadir dalam pementasan. Dalam dokumentasi tersebut disebutkan sejumlah penari mengalami kerauhan sehingga menghadirkan nuansa magis yang kuat.

Turut hadir dalam pembinaan tersebut Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Raka Purwantara, konsultasi seni hingga budayawan dan para pengurus penglingsir Banjar Pegok. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN