Foto udara kepadatan kantong parkir Terminal Kargo Gilimanuk, Jembrana, Bali, Rabu (18/3/2026). Kepadatan terjadi menjelang penutupan sementara aktivitas penyeberangan Pelabuhan Gilimanuk-Ketapang pada 19 Maret 2026 pukul 05.00 WITA dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Bali yang bertepatan dengan puncak arus mudik Idul Fitri 2026. (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tren arus angkutan Lebaran 2026 menunjukkan lonjakan signifikan pergerakan keluar Bali selama periode 13 hingga 19 Maret 2026.

Data Dinas Perhubungan Provinsi Bali mencatat pada periode tersebut lebih dari setengah juta orang meninggalkan Bali, tepatnya sebanyak 651.637 orang.

Sementara itu, sebanyak 341.913 orang masuk ke Bali. Selisih 309.724 orang ini menjadi indikator kuat derasnya arus mudik tahun ini.

Pintu utama eksodus terjadi di Pelabuhan Gilimanuk. Jalur darat ini menjadi favorit pemudik dengan 407.301 orang tercatat keluar Bali, sementara yang masuk hanya 136.275 orang. Selisih yang mencapai lebih dari 271 ribu orang menjadikan Gilimanuk sebagai titik terpadat sekaligus paling krusial.

Baca juga:  Perketat Pemeriksaan, Pos II Digeser ke Luar Pelabuhan Gilimanuk

Di jalur udara, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menunjukkan dinamika berbeda. Penerbangan domestik relatif seimbang, bahkan sedikit didominasi penumpang masuk. Namun untuk rute internasional, arus keluar tetap lebih tinggi, mengindikasikan mobilitas warga dan wisatawan yang tetap aktif.

Sementara itu, pelabuhan lain seperti Pelabuhan Padangbai dan Pelabuhan Benoa juga mencatat tren serupa—lebih banyak penumpang keluar dibandingkan masuk, meski skalanya tidak sebesar Gilimanuk.

Baca juga:  Polri Pastikan Situasi Kondusif

Tak hanya manusia, kendaraan pun “membanjiri” jalur keluar Bali. Total 140.787 unit kendaraan tercatat keluar pulau, berbanding jauh dengan hanya 27.787 unit yang masuk. Lagi-lagi, Gilimanuk menjadi episentrum kepadatan dengan lebih dari 123 ribu kendaraan melintas keluar Bali.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Kadek Mudarta, Minggu (22/3) menyebut kondisi ini sebagai puncak arus mudik, di mana mayoritas warga memilih kembali ke kampung halaman, terutama ke Pulau Jawa menjelang Idulfitri.

Baca juga:  Soal Mudik Lebaran Boleh atau Tidak, Ini Kata Wapres

Meski demikian, ia menegaskan pengelolaan penyeberangan bukan sepenuhnya kewenangan Dishub. Koordinasi di lapangan melibatkan berbagai pihak seperti operator penyeberangan, balai transportasi, hingga kepolisian setempat.

Dengan dominasi arus keluar ini, Bali untuk sementara beralih dari destinasi padat wisata menjadi titik awal perjalanan pulang—setidaknya hingga gelombang arus balik kembali menghidupkan pulau ini. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN