
DENPASAR, BALIPOST.com – Lonjakan harga tiket bus hingga hampir dua kali lipat tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk mudik Lebaran dari Bali. Ratusan pemudik dengan membawa tas, koper, hingga kardus berisi oleh-oleh tetap memadati salah satu perusahaan otobus (PO) di Jalan Cokroaminoto, Denpasar, Sabtu (14/3).
Arus mudik dari Bali menuju Pulau Jawa diperkirakan berlangsung sejak 13 Maret hingga 18 Maret 2026. Namun, sejumlah agen bus menyebut lonjakan penumpang sebenarnya sudah mulai terasa sejak beberapa hari sebelumnya.
Staf PO Bus Gunung Harta Denpasar, Suwarniani, mengatakan kepadatan penumpang mulai terlihat sejak 10 Maret 2026. Bahkan seluruh tiket keberangkatan telah habis terjual hingga 18 Maret.
“Kurang lebih sekitar 900 orang penumpangnya. Terakhir keberangkatan tanggal 18 Maret 2026 pukul 12.00 siang,” ujarnya, Sabtu (14/3).
Ia menjelaskan, rute terjauh yang dilayani perusahaan otobus tersebut adalah Jakarta dan Bandung. Namun, tujuan yang paling banyak diminati pemudik tahun ini adalah Yogyakarta dan Semarang.
Tingginya permintaan tiket membuat harga mengalami kenaikan signifikan, bahkan mencapai 80 hingga 90 persen dari harga normal.
“Kalau ke Jawa Timur paling mahal Rp500 ribu dari normal Rp300 ribu. Kalau ke Jakarta dan Bandung paling mahal Rp1 juta dari harga Rp620 ribu,” jelasnya.
Menurut Suwarniani, kenaikan harga tersebut bukan dipicu kelangkaan bahan bakar, melainkan faktor operasional. Setelah mengantar pemudik ke Jawa, bus biasanya kembali ke Bali dalam kondisi kosong karena tidak sempat mengambil penumpang dari daerah tujuan.
Sementara itu, salah satu pemudik, Ningsih (60), mengaku sengaja pulang kampung lebih awal untuk menghindari kepadatan lalu lintas menjelang puncak arus mudik.
Perempuan yang telah lebih dari 20 tahun tinggal di Bali itu mudik ke Malang bersama anak dan tiga cucunya yang masih kecil. “Ini mudik ke Malang. Sekarang aku sama anakku nomor dua. Nanti malam anakku nomor tiga. Hari Selasa anakku nomor empat sama suaminya,” tuturnya.
Ia mengatakan telah menyiapkan berbagai keperluan perjalanan seperti obat-obatan dan makanan untuk cucu-cucunya. Total biaya tiket yang dikeluarkan keluarganya mencapai sekitar Rp2,35 juta, dengan harga per tiket yang naik dari Rp290 ribu menjadi Rp470 ribu.
Meski harga tiket lebih mahal, Ningsih tetap bersyukur dapat pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga saat Lebaran.
“Ya semoga dengan Lebaran ini kita bisa kumpul sama keluarga. Kedepannya biar enak nanti kalau kerja bapaknya itu tidak seperti tahun-tahun ini,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)










