Suasana pasar takjil di Jalan Jeruk ramai pengunjung saat Ramadhan. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Pasar takjil di kawasan Jalan Jeruk, Kelurahan Kampung Kajanan, Singaraja, selalu ramai setiap bulan Ramadhan. Selain harganya terjangkau, pasar kaget ini menyajikan berbagai menu untuk masyarakat yang menunggu waktu berbuka puasa.

Kawasan Jalan Jeruk yang biasanya sepi pada hari biasa, tetapi mendadak dipadati pengunjung saat Ramadan. Puluhan pedagang tampak menyajikan makanan di tepi gang. Berbagai menu dijajakan, mulai dari gorengan, kue, lauk-pauk hingga es buah. Harga yang ditawarkan pun bersahabat, karena sebagian besar dijual oleh pedagang setempat.

Baca juga:  Januari - Nopember, Banyak Modal Asing Keluar dari Pasar SBN

Salah satu pedagang, Sania (55), ditemui Selasa (24/2), mengaku telah berjualan di Jalan Jeruk sejak puluhan tahun lalu. Penjual es buah ini mulai melakukan persiapan sejak pukul 14.00 WITA.

Sekitar pukul 16.00 WITA, ia bersama suaminya mulai menggelar dagangan di dekat rumahnya untuk melayani pembeli. “Saya di sini sudah lama. Dari dulu selalu berjualan aneka es dan selalu ramai,” ujarnya.

Keberadaan pasar takjil ini juga menarik perhatian Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Buleleng, Ny. Wardhany Sutjidra. Ia sempat membeli sejumlah takjil yang kemudian dibagikan kepada masyarakat. Menurutnya, pasar takjil di Jalan Jeruk menyajikan berbagai menu yang telah melalui pemeriksaan dan aman untuk dikonsumsi.

Baca juga:  Bulog Impor 18 Ribu Ton Daging Kerbau

“Saat ini tidak ada yang menggunakan pewarna buatan, semua sudah alami. Kami bersyukur sekarang kesadaran masyarakat tinggi,” jelasnya.

Meski demikian, ia berharap para pedagang dapat lebih meningkatkan kesadaran kebersihan, terutama dalam penanganan makanan. Pedagang diimbau menggunakan sarung tangan karena setelah menerima uang, tangan kerap langsung digunakan untuk mengambil makanan.

Di sisi lain, Kepala Loka POM Buleleng, Rai Gunawan, mengatakan pihaknya telah melakukan 16 kali sampling terhadap jajanan takjil. Hasilnya, seluruh sampel dinyatakan negatif dari parameter berbahaya.

Baca juga:  Cegah Penyebaran Covid-19, Operasi Yustisi Sasar Pasar

“Kami lakukan 16 sampling dan semuanya negatif, baik dari pewarna tekstil seperti rhodamine B dan methanil yellow, boraks maupun formalin,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengambilan sampel dilakukan berdasarkan analisis risiko, terutama pada pangan berwarna mencolok atau yang berpotensi ditambahkan zat berbahaya, seperti cendol berwarna cerah, bakso, teri, maupun kerupuk.

“Pemeriksaan rutin dilakukan untuk memastikan makanan yang beredar di masyarakat tetap aman dikonsumsi,”jelas Rai. (Yuda/balipost)

 

BAGIKAN