
MANGUPURA, BALIPOST.com – Lonjakan harga plastik di Indonesia memicu keresahan di kalangan pelaku usaha, khususnya sektor makanan dan minuman. Kenaikan yang terjadi berkisar antara 40 persen hingga 100 persen ini disebut dipengaruhi oleh naiknya harga minyak mentah global serta gangguan pasokan bahan baku.
Di lapangan, dampaknya mulai terasa. Pelaku UMKM mengaku harus mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk kemasan, yang berpotensi mengerek harga jual produk. Kondisi ini dikhawatirkan menekan daya beli konsumen jika berlangsung dalam waktu lama.
Pemerintah Kabupaten Badung pun tidak tinggal diam. Melalui Bagian Ekonomi Setda, pemantauan rutin terus dilakukan guna memastikan gejolak harga tersebut tidak berdampak signifikan terhadap pelaku usaha kecil dan menengah di daerah.
Kabag Ekonomi Setda Badung, Anak Agung Sagung Rosyawati, menegaskan pihaknya terus mengikuti perkembangan di lapangan secara berkala.
“Kami memang terus melakukan pemantauan. Namun, sesuai hasil monitoring mingguan BI saat ini belum ada pengaruhnya, jadi harus dilihat lagi nanti hasil monitoring minggu depan,” ungkap Sagung Rosyawati pada Kamis (16/4).
Berdasarkan hasil Monitoring Harga Bank Indonesia Bali pada minggu kedua April 2026, kondisi harga komoditas di Badung justru menunjukkan tren penurunan dibandingkan bulan Maret. Penurunan harga terutama terjadi pada cabai rawit, daging ayam ras, sawi hijau, cabai merah, dan bayam.
Sementara itu, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, seperti bawang merah, minyak goreng, angkutan udara, canang sari, dan ikan tongkol.
Meski secara umum inflasi masih terkendali, kenaikan harga plastik tetap menjadi sorotan tersendiri. Data di lapangan menunjukkan harga plastik kresek naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 per pak dan Plastik ukuran jumbo melonjak dari Rp25.000 menjadi Rp50.000 per pak. (Parwata/balipost)










