
GIANYAR,BALIPOST.com – Proses evakuasi pohon beringin raksasa yang tumbang di depan Puri Kantoran, Jalan Suweta, Ubud, memasuki tahap penanganan lanjutan Selasa (17/2). Mengingat ukuran pohon yang masif dan keterbatasan ruang jangkau alat berat (crane), tim di lapangan terpaksa menggunakan metode tradisional untuk mempercepat pembersihan.
Kepala Pelaksana BPBD Gianyar, Ida Bagus Putu Suamba, didampingi Kabid Kedaruratan dan Logistik, IGN Dibya Presasta, menegaskan bahwa sinergi antar-instansi menjadi kunci penanganan bencana hidrometeorologi ini.
“Ketika crane tidak lagi menjangkau titik-titik tertentu, kami gunakan cara tradisional. Suksma untuk TRC Multisektor Gianyar yang telah bekerja keras di lapangan,” ujar IB Putu Suamba.
Penanganan yang dimulai sejak pukul 08.00 WITA ini melibatkan unsur gabungan dari BPBD, Dinas PUPR, DLH, Satpol PP & Damkarmat, PLN, Polsek Ubud, Koramil, hingga Pecalang setempat.
Ada beberapa poin utama yang menjadi prioritas dalam Rencana Tindak Lanjut (RTL). Pembersihan material, memotong dan mengangkut sisa batang serta dahan pohon beringin. Perbaikan Lampu Penerangan Jalan (LPJ), trotoar, serta rambu dan marka jalan yang rusak tertimpa pohon. Penormalan kembali jaringan kabel oleh pihak PLN.
Penglingsir Puri Kantoran Ubud yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Gianyar, Tjokorda Gede Asmara Putra, menyatakan bahwa pembersihan secara fisik akan dibarengi dengan prosesi spiritual secara adat Bali.
”Pastinya tanggal 20 Februari nanti akan dilaksanakan upacara Mecaru Ngeresigana Kerubuhan. Besok kami akan ke Griya untuk memohon petunjuk (nunas pemargi) lebih lanjut mengenai prosesi tersebut,” ungkap Tjokorda Asmara.
Terkait bangunan puri yang mengalami kerusakan akibat robohnya pohon, ia memastikan perbaikan akan segera dilakukan setelah mendapat arahan dari pihak sulinggih.
Saat ditanya mengenai estimasi kerugian materiil, Tjokorda Asmara menjawab dengan nada seloroh, “Belum tahu pasti, karena saya bukan pemborong,” ucapnya sembari tersenyum. (Wirnaya/balipost)








