
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Di balik pesatnya perkembangan sektor pariwisata di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, persoalan ketersediaan air bersih masih menjadi pekerjaan rumah. Hingga kini, masih banyak wilayah yang belum teraliri air bersih sehingga warga terpaksa mengandalkan air hujan serta sumur bor untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut salah satunya dialami warga Desa Jungutbatu. Selama ini, pasokan air bersih hanya mengandalkan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Ceningan yang berlokasi di Desa Lembongan.
Namun, fasilitas tersebut belum mampu memperluas jangkauan layanan akibat keterbatasan kapasitas produksi.
Direktur Perumda Air Minum Panca Mahottama Klungkung, I Nyoman Renin Suyasa, Selasa (27/1/2026), mengatakan SWRO Ceningan saat ini baru melayani 385 sambungan rumah tangga yang tersebar di wilayah Ceningan dan Lembongan. Dengan kapasitas produksi air bersih sekitar 3,7 liter per detik, pihaknya belum berani menambah cakupan layanan.
“Kalau kami memperluas layanan, nanti dikhawatirkan akan berdampak ke pelanggan lainnya, karena debit air sangat terbatas,” ujar Renin Suyasa.
Ia menambahkan, keterbatasan debit air menjadi alasan utama belum terlayaninya masyarakat Jungutbatu. Padahal, permintaan sambungan air bersih dari wilayah tersebut cukup tinggi. Saat ini, tercatat masih ada 13 pengajuan sambungan baru yang masuk dalam daftar tunggu.
Selama ini, warga Jungutbatu hanya mengandalkan air hujan dan sumur bor. Namun, air dari sumur bor dinilai tidak ideal untuk konsumsi karena memiliki kandungan garam yang tinggi. Selain berdampak pada kesehatan, penggunaan sumur bor secara masif juga dikhawatirkan dapat merusak keseimbangan lingkungan.
“Seluruh wilayah Jungutbatu belum bisa terlayani. Selama ini warga pakai air sumur bor dan air hujan. Namun kandungan garamnya tinggi. Selain itu, kalau banyak yang pakai sumur bor akan berdampak pada alam,” imbuhnya.
Sebagai solusi jangka menengah, Perumda Air Minum Panca Mahottama Klungkung saat ini tengah menjalin kerja sama dengan badan usaha untuk membangun SWRO baru di Jungutbatu. Proyek tersebut akan menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Renin Suyasa menargetkan SWRO Jungutbatu dapat mulai beroperasi pada Mei 2026. Dengan kapasitas yang lebih besar, yakni mencapai 9.000 meter kubik, ia optimistis seluruh wilayah Jungutbatu dapat terlayani air bersih.
“Kalau sudah beroperasi, seluruh wilayah Jungutbatu bisa terlayani. Apalagi di sana akomodasi wisata berkembang pesat, ini akan sangat menunjang sektor pariwisata,” tandasnya. (Sri Wiadnyana/denpost)










