Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Aksi tercela oknum guru di Denpasar tengah menjadi perbincangan karena diduga video call dengan salah satu siswi dan berprilaku tak senonoh. Kejadian tersebut dilakukan seorang guru honorer di SMPN 6 Denpasar yang berujung pada pemecatan.

Hal tersebut diakui oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Denpasar, A.A. Gde Wiratama saat dikonfirmasi Senin (26/1).

Dia mengatakan, kejadian tersebut dilakukan pada 20 Januari lalu dan yang bersangkutan sudah dipecat per 23 Januari 2026. “Itu guru honorer yang baru bertugas awal Januari 2026 ini. Dia guru bahasa Bali dan juga seorang seniman,” kata Wiratama.

Baca juga:  Sebelum Kejadian, Istri Wayan Sugiarta Sempat Video Call

Dia pun mengaku terkejut dengan adanya kejadian itu. Diceritakannya guru tersebut melalukan aksinya di toilet salah satu minimarket.

Oknum guru menghubungi salah seorang siswi dengan video call. Wiratama menekankan kejadian tersebut dilakukan di sebuah minimarket, bukan di sekolah. “Saya luruskan itu bukan di toilet sekolah seperti yang beredar, tapi di salah satu minimarket,” ujar Wiratama.

Dia menambahkan jika siswi yang divideo call tersebut tidak menanggapi aksi sang guru, namun merekamnya. Rekaman tersebut kemudian menyebar hingga sampai ke pihak sekolah.

Baca juga:  Dugaan Korupsi Aset Kejari Tabanan, Pemeriksaan 6 Tersangka Rampung

Pada 23 Januari pihak sekolah pun memanggil siswi dan guru tersebut. Pada hari yang sama oknum guru tersebut langsung dipecat. “Siswinya dipanggil lebih awal dan membenarkan, kemudian gurunya juga dipanggil guru BK dan mengakui perbuatannya,” ungkapnya.

Sebelum menjadi guru di SMPN 6 Denpasar, guru tersebut sempat menjadi honorer di sebuah sekolah swasta. Dengan kejadian itu, Kepala SMPN 6 Denpasar kemudian mengambil langkah tegas memberhentikan guru tersebut. “Sekarang dia bukan guru SMPN 6 Denpasar lagi, karena sudah dipecat,” terangnya.

Baca juga:  Saat Video Call dengan Istri di Rusia, Seorang Pria Gantung Diri

Wiratama menambahkan jika guru tersebut juga telah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Pihaknya berharap kejadian yang mencoreng nama baik dunia pendidikan di Denpasar tak terjadi lagi. Disinggung terkait apakah ada laporan ke polisi terkait kejadian itu, sampai saat ini Wiratama mengatakan belum ada. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN